Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Terminator

Pertama kali yang terbayang setelah membaca tulisan di atas pasti sebuah film laga yang dibintangi Arnold Schwarzenegger. Apalagi belum lama ini keluar seri terbarunya yang berjudul Dark Fate.

Padahal sebenarnya saya bukan mau cerita tentang film. Melainkan tentang sebuah fenomena alam yang disebut sebagai garis terminator. Yaitu, sebuah garis yang berada tepat pada perubahan bagian siang dan bagian malam di permukaan bumi.

Seperti kita ketahui planet bumi itu bulat, maka ketika matahari terbit di satu bagian bumi, masih ada bagian lain yang tidak segera mendapat cahayanya tersebut. Akibatnya satu sisi bumi sudah memperlihatkan tanda-tanda siang hari, sedangkan sisi lain masih dalam tanda-tanda malam hari.

Nah, posisi yang bertepatan di tengah-tengah kedua sisi siang dan sisi malam tersebut akan menimbulkan seolah-olah sebuah garis yang sangat halus. Inilah yang disebut garis terminator.

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (Al-Isra: 12)

Seperti kita ketahui, matahari adalah benda langit yang besar dan gagah. Suhu dalam intinya mencapai 12 juta derajat celcius. Volumenya lebih dari 1 triliun kilometer kubik. Yang artinya bisa menampung 1,3 juta planet bumi di dalamnya!

Tapi dengan kegagahan yang demikian hebat seperti itu, tetap saja matahari tak mampu menerangi seluruh bumi secara bersamaan. Ia tetap harus bergantian dengan bulan yang bahkan tidak punya cahayanya sendiri.

Begitulah pelajaran dari tata surya ciptaan Allah, agar kita tetap rendah hati. Jangan merasa lebih baik dari orang lain.

Memandang bahwa kita lebih baik itu adalah sifat Iblis, sebaliknya memandang orang lain yang lebih baik itu adalah sifat para Nabi dan Rasul. Perhatikan perbedaan yang sangat jelas dari kedua ayat ini,

وأَخِي هَارونُ هُوَ أفصَحُ مِنِّي لِسَانًا

(Musa berkata), “Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lisannya dariku.” (Al-Qashas: 34)

قَالَ أنَا خَيرٌ مِنهُ

(Iblis) berkata, “Aku lebih baik darinya.” (Al-A’raf: 12)

Lihatlah bagaimana Nabi Musa yang senantiasa merasa orang lain lebih baik darinya. Sedangkan Iblis justru merasa dialah yang paling baik dari siapapun.

Oleh karena itu, mari hiasi diri kita ini dengan sifat rendah hati. Matahari yang hebat saja tetap harus mengalah dengan bulan. Apalagi kita yang serba terbatas ini.