Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Forgiveness

Tuan rumah berjaya di event Asia Road Racing Championship 2015 di Sirkuit Sentul.

Fadli Immammuddin merayakan selebrasi kemenangannya dengan memperlambat motor menyapa supporter yang telah mendukungnya sepanjang balapan.

Namun tiba-tiba, dari belakang pebalap Thailand Jakkrit Sawangsat meluncur kencang menghantam M.

M. Fadli cidera parah, yang mengakibatkan kaki kirinya harus diamputasi.

Pebalap motor potensial itu harus menerima kenyataan karirnya di balap motor harus berakhir akibat peristiwa tadi.

Meski tidak mengalami cedera berarti, Jakkrit merasa sangat bersalah atas peristiwa tersebut dan memutuskan berhenti dari balapan.

Mendengar itu, Fadli justru berangkat ke Thailand, menemui Jakkrit, dan menyampaikan bahwa ia telah memaafkan, ia telah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.

Bagi juara sejati, hanya ada satu pilihan : terus bergerak maju.

Selain menjadi mentor pebalap muda, Fadli adalah atlet Para Cycling yang berprestasi.

Di Asian Para Games 2018 lalu medali Perak dan Emas mampu diraihnya.

Fadli telah mengikhlaskan apa yang menimpanya, memaafkan orang yang memicu keadaan yang tidak diinginkan.

Dan karenanya dia terbebas dari beban yang dapat menghambatnya bergerak maju.

Banyak diantara kita memilih untuk “memelihara” dendam, sakit hati, marah atas sebuah peristiwa atau seseorang di masa lalu.

Tanpa menyadari bahwa energi negatif yang terus dipelihara akan menggerogoti kesehatan batin dan bahkan fisik.

Seperti punya sebuah luka namun tak ingin luka itu sembuh.

“Aaah tapi kan susah … Gak ngalamin sendiri sih, betapa jahatnya orang itu, betapa sakitnya hati ini …”

Kita bisa memulai berlatih dengan melakukan untuk hal-hal yang lebih sederhana.

Mungkin sesederhana memaafkan rekan kerja yang tadi waktu meeting komentarnya ngeselin?

Atau memaafkan teman yang pas jaman kampanye pilpres sering posting jelekin jagoan Anda?

Dan bayangkan orang yang Anda maksud hadir di depan Anda, dan sampaikan bahwa Anda sudah memaafkannya mengikhlaskan perbuatannya, dan meminta agar dia juga memaafkan Anda.

Semakin sering dilakukan, otot “memaafkan” Anda akan semakin kuat, dan siap untuk memaafkan hal-hal yang lebih “besar”.