Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Tag: PRJ

Sejarah Kemayoran

Pada mulanya penduduk Kampung Kemayoran adalah orang Betawi. Kedatangan Belanda ke Jakarta sebagai bangsa penjajah banyak membutuhkan tenaga dari luar untuk diladikan pekerja dalam pembuatan jalan, parit-parit maupun untuk menjadikan milisi (wajib militer) dalam menghadapi Sultan Hasanudin dari Banten dan Sultan Agung dari Mataram.

Selain itu untuk menghadapi musuh-musuhnya pemerintah Belanda mendatangkan orang-orang dari Cina, India, Sumatera dan Indonesia bagian timur. Dengan adanya bangsa-bangsa tersebut terjadilah asimilasi perkawinan diantara mereka.

Kemudian datang orang Indo (campuran Belanda dan Indonesia) untuk tinggal di komplek tentara di jalan Garuda. Setelah perang dunia ke dua banyak bekas tentara Belanda (pensiunan) datang ke Kemayoran untuk tinggal di sana.

Setelah Indonesia merdeka, daerah Kemayoran banyak didatangi orang-orang perantauan dari Jawa Tengah (Yogya, Kebumen, Tegal, Purwokerto, Banyumas), Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, NTT dan NTB. Demikian pula bangsa-bangsa lain seperti Cina, Arab banyak berdatangan di tempat tersebut.

Pada masa pemerintahan Belanda Kemayoran merupakan sebuah Wekmeester yang dipimpin oleh seorang Bek. Baru setelah Indonesia merdeka, Kemayoran menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Sawah Besar, Kawedanan Penjaringan, Walikota Jakarta Raya.

Tetapi pada tahun 1963 – 1968 Kemayoran dimasukan kedalam wilayah Kecamatan Senen, Walikota Jakarta Raya. Setelah tahun 1968 Kemayoran dijadikan wilayah Kecamatan dengan meliputi lima kelurahan yaitu Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Kebon Kosong, Serdang dan Harapan Mulia.Pada masa pemerintahan Belanda daerah Kemayoran tidak lepas dari kekuasaan mereka.

Di bawah pemerintahan gubernur Jendral Daendels, usaha yang dilaksanakan ialah pembangunan jalan darat yaitu dari Anyer sampai Panarukan. Kebutuhan dana pembangunan jalan tersebut Daendeels dengan cara meniual tanah yang dikuasai kepada orang-orang kaya. Hal semacam itu terjadi pula pada tanah di Kemayoran. Umumnya pembelinya dari kalangan orang-orang kaya atau luan tanah dari golongan Cina, Arab dan Belanda, diantaranya ialah Rusendal, H. Husein Madani (lndo-Belanda), Abdullah dan De Groof.

Kekuasaan tuan tanah itu sama dengan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Mereka berhak mengatur kembali tanah yang sebelumnya mereka adalah budak belian. Setelah perbudakan dihapus, mereka menjadi petani milik tuan tanah dan umumnya tuan tanah akan menentukan besarnya pajak yang harus mereka bayar.Adapun pajak yang ditarik pada waktu itu ada dua macam yaitu pajak tempat tinggal dan pajak penggarap sawah hasil bumi.

Untuk pajak tempat tinggal ditarik tiap bulan sebesar satu picis. Sedangkan untuk penghasil dibagitiga dengan perincian petani penggarap 25%, tuan tanah 45% dan mandor 30%. Disamping penggarap mengeluarkan 25%, mereka masih diharuskan memberikan sebagian hasilnya pada mandor. Apabila tanah itu ditanami kacang tanah, buah-buahan dan sebagainya, mereka diwajibkan membayar pajak tanah pada tuan tanah yang besarnya kurang lebih 4% dari hasil panen tersebut. Adanya pendatang dengan mempunyai latar belakang kebudayaan dan pendidikan yang berbeda membawa pengaruh positif terhadap kehidupan penduduk Kemayoran.

Dahulu mereka memang memandang para pendatang secara negatif, karena mereka menganggap bahwa para pendatang itu berasal dari kalangan orang-orang susah. Kesan semacam itu kemudian berubah setelah mereka mulai mengadakan komunikasi. Dengan adanya komunikasi terus-menerus mendorong penduduk Kemayoran mau bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya, karena banyak diantaranya dalam mereka bekerja tidak lagi hanya mengandalkan dari satu jenis pekerjaan seperti dahulu.

Karena Kemayoran sekarang daerahnya sudah berubah menjadi tempat pemukiman, banyak diantara mereka yang mengalihkan mata pencahariannya yakni dari petani ke usaha-usaha lain seperti pedagang, buruh pabrik, bengkel dan lain-lain.

Dengan dibangunnya Lapangan Terbang Kemayoran sekitar tahun 1935, penduduk membuka usaha sebagai pedagang keliling, nasi, perbengkelan, berjual alat-alat rumah tangga dan lain-lain.

Sudah menjadi tradisi bagi tuan-tuan tanah di daerah kemayoran, pada tiap-tiap tahun baru Cina, mereka mengadakan suatu pesta perayaan dengan acara pertunjukan sebagai hiburan bagi rakyat. Acara pertunjukan tersebut memperkenalkan kesenian rakyat yang sangat digemari pada saat itu misalnya kesenian Keroncong, Wayang Kulit, Gambang Kromong, Der Muruk dan lain-lain.

Referensi :
– Perpustakaan Nasional
– Kampung Tua di Jakarta, Dinas Museum dan Sejarah, 1993
– Diskominfomas, Bang Jay Salim di Gue Anak Kemayoran

– https://anakbetawiblog.wordpress.com/2016/08/14/sejarah-kemayoran/

Catatan Sejarah yang Tercecer dari Kampung Tua Kemayoran

Setiap orang sebagai bagian dari anggota masyarakat tentu akan menetap di suatu wilayah. Ia bisa menetap di Jakarta maupun wilayah Indonesia lainnya. Namun seringkali kita bertanya soal asal usul nama wilayah di mana kita diam dan menetap itu. Padahal dipastikan munculnya suatu nama wilayah memiliki sejarah dan catatannya sendiri. Seperti halnya di Jakarta ini, termasuk Kemayoran. Barangkali nama Kemayoran sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jakarta khususnya dan di Indonesia umumnya. Masyarakat tanah air tentu mengenal nama tersebut karena sempat menjadi pintu gerbang masuk dan keluarnya semua kalangan untuk melakukan perjalanan domestik maupun mancanegara. Apalagi bagi kalangan pemimpin dunia ketika itu, Kemayoran seolah akrab di telinga mereka sejak Konferensi Asia Afrika (KAA) I tahun 1955 di Bandung dulu. Di bagian wilayah ini sejak sebelum kemerdekaan, sekitar tahun 1935 (1940) hingga 1985 terdapat Bandar udara tersibuk di Indonesia. Tak heran, pemimpin dunia manapun pasti tahu nama ini. Kemayoran bisa dikenal salah satunya dari keberadaan lapangan udara itu sebelum akhirnya dipindahkan ke Cengkareng (Bandar Udara Soekarno-Hatta). Namun demikian Kemayoran juga menyimpan catatan sejarahnya sendiri. Kemayoran tempo dulu merupakan satu kampung besar demikian luas dan kabarnya sebagian dari tanahnya itu dikuasai oleh Isaac de Saint Martin, seorang serdadu berkebangsaan Perancis, yang lahir pada 1629. Pendek kata, oleh alasan tertentu Isaac yang berpangkat Mayor tatkala peperangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur masa VOC dulu hengkang, dan akhirnya menetap di wilayah ini. Dari beberapa literature, ada yang menyebut munculnya nama Kemayoran oleh sebab pangkat Mayor yang disandang Isaac kerap digunakan masyarakat Batavia (Betawi) untuk memanggil namanya, Tuan Mayor. Tetapi, dalam dokumen Plakaatboek (Van der Chijs XIV; 536), serta suatu iklan pada Java Government Gazette tertanggal 24 Februari 1816, wilayah ini biasa disebut Mayoran. Bahkan ada cerita munculnya nama Kemayoran juga berasal dari nama pangkat seperti tersebut di atas. Akan tetapi pangkat Mayor ini hanya diberikan kepada orang Tionghoa atau Belanda dari pemerintah Belanda sebagai pangkat kehormatan untuk mengepalai kelompok atau golongannya, sekaligus bertugas menarik pajak pribumi. Dalam konteks interaksi inilah kemudian masyarakat pribumi betawi acapkali menyebut nama Mayor untuk petugas penarik pajak itu. Karenanya asal usul nama ini boleh jadi masih menimbulkan tafsir bagi kalangan pemerhati sejarah. Kendati nama tersebut tidak disebutkan secara pasti kapan sesungguhnya nama Kemayoran itu muncul. Apalagi bersamaan dengan datangnya Inggris, lewat Thomas Stamford Raffles, di beberapa kota di Batavia dibentuk suatu tatanan pemerintahan hirarkis. Kampung tua Kemayoran pun tak luput dengan model pemerintahan ala Raffles ini. Ketika itu Gubernur Jenderal asal Inggris ini memberikan hirarki kepemimpinan dalam tatanan masyarakat di wilayah ini atau yang disebut dengan Wijkmeester (Lurah). Wijk atau Lurah dalam perkembangannya kemudian diplesetkan menjadi Bek pada masyarakat Betawi. Bek bisa diartikan pula oleh masyarakat betawi sebagai orang yang berkuasa dan dihormati di suatu wilayah. Lepas dari asal usul nama itu, kampung Kemayoran yang masa tempo dulu dihuni penduduk asli betawi, kini telah dihuni oleh berbagai etnis. Konon keragaman etnis ini muncul pertama kali, tatkala terjadi peperangan VOC dalam menghadapi Sultan Hasanudin dari Banten dan Sultan Agung, Mataram sekitar tahun 1628-an. Dalam peperangan itu, VOC mendatangkan orang-orang dari Cina, India, Sumatera dan Indonesia Timur. Selain juga kedatangan mereka adalah untuk dijadikan pekerja dalam pembuatan jalan, parit maupun milisi militernya. Dari situlah kemudian muncul asimilasi perkawinan yang menumbuhkembangkan etnisitas, baik antar masyarakat pendatang maupun dengan masyarakat betawi Kemayoran. Selanjutnya, pertumbuhan etnis itu juga kian berkembang di masa penjajahan Belanda ketika orang-orang Indo (campuran Belanda dan Indonesia) menetap di tangsi tentara di sekitar jalan Garuda. Kehadiran mereka juga menambah etnisitas yang mendiami kawasan Kemayoran ini. Malah usai perang dunia kedua pun (perang kemerdekaan) banyak eks tentara Belanda yang pensiun menetap di sini. Bukan hanya itu setelah Indonesia merdeka, kawasan Kemayoran kemudian didatangi masyarakat perantau yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, NTT dan NTB., serta daerah lainnya. Bahkan bangsa lain, semacam Cina dan Arab juga tak mau ketinggalan untuk tinggal di wilayah ini. Dari perspektif sejarah itu, yang di mulai dari masa Batavia hingga Jayakarta kemudian, serta membaurnya etnis yang ada menjadikan dinamika sosial, ekonomi dan kebudayaan kampung tua Kemayoran cepat tersiar. Tersebutlah misalnya di masa Daendels berkuasa, tuan tanah kaya raya ada di Kemayoran, seperti misalnya Rusendal, H Husein Madani, Abdullah dan De Groof. Mereka adalah orang kaya yang membeli tanah penguaasa Belanda di wilayah ini untuk membiayai pembangunan jalan darat Anyer-Panarukan. Mereka tuan tanah itu kebanyakan berasal dari golongan Arab, Cina, maupun Belanda sendiri. Bahkan di sekitar masa itu pula, muncul tokoh-tokoh Jago Kemayoran, seperti misalnya Murtado dan Djiong (Macan Kemayoran?). Di luar itu dalam perkembangannya muncul juga kesenian yang cukup dikenal luas ketika itu, yakni Keroncong Kemayoran, selain juga Gambang Kromong, Wayang Kulit dan Der Muruk. Malah kesenian semacam ini merupakan favorit masyarakat betawi Kemayoran yang amat digemari. Seiring waktu berjalan, kampung tua Kemayoran yang semula di pimpin oleh seorang lurah (wijkmeester), lalu di masa sesudah kemerdekaan menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Sawah Besar, Kawedanaan Penjaringan, Walikota Jakarta Raya. Malah pada tahun 1963-1968 Kemayoran dimasukan ke dalam wilayah Kecamatan Senen, Walikota Jakarta Raya. Selanjutnya di tahun 1968 itu juga Kemayoran dijadikan wilayah Kecamatan yang meliputi lima keluarahan, yakni Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Kebon Kosong, Serdang dan Harapan Mulia. Namun kini di tahun 2012 ini Kemayoran tumbuh dengan pesat. Kecamatan Kemayoran terdiri dari 8 kelurahan, 77 RW dan 1031 RT, sedangkan Kelurahan yang tercatat di Kemayoran ini yakni Harapan Mulya, Cempaka Baru, Sumur Batu, Serdang, Utan Panjang, Kebon Kosong, Kemayoran, dan Gunung Sahari Selatan. Sebagaimana diketahui Kelurahan terluas di wilayah ini ada di kelurahan Gunung Sahari Selatan, dengan luas wilayah mencapai 1,53 Km2 atau 21,11% dari luas wilayah Kecamatan Kemayoran (7,25 km2). Sementara jumlah penduduk menurut data Kecamatan Kemayoran tahun 2010 lalu, sekitar 187.491 orang.Sayangnya sisa kampung tua Kemayoran yang disebut dalam berbagai literature itu, baik typikal rumah tinggal maupun kesenian yang pernah jaya dulu, sulit dijumpai sekarang ini. Padahal di kampung ini sempat muncul tokoh seni, semisal Benyamin Sueb dan lainnya. Kecuali itu, kampung tua Kemayoran sekarang telah tumbuh demikian pesat dengan beragam persoalannya, mulai kepadatan penduduk, pemukiman yang rapat, pedagang kaki lima di titik jalan tertentu hingga aliran kali sentiong yang kerap dipenuhi sampah setiap harinya. Namun begitu toh Kemayoram masih tetap dikenal masyarakat domestik dan mancanegara karena Pekan Raya Jakarta (PRJ) diselenggarakan di areal bekas bandara Kemayoran seluas 44 hektar sejak 1992 lalu.

sumber: https://www.kompasiana.com/www.kompasianan.blogspot.com/551a274aa33311aa1fb65936/catatan-sejarah-yang-tercecer-dari-kampung-tua-kemayoran

Memonopoli dan mengakumulasi harta

Memonopoli dan mengakumulasi harta adalah fenomena yang sering terjadi, dengan sadar juga tanpa sadar.

Dalam arti, bisa jadi si pelaku dalam kehidupan sehari-hari tidak suka alias kritis terhadap kapitalis-kapitalis negatif dari Barat yang menumpuk harta. Tapi di waktu yang sama, saat ia punya kesempatan, ia pun melakukan hal yang sama. Memonopoli harta.

Sering saya sampaikan di mana-mana, “Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan. Akan tetapi, hanya manfaatmu, amalmu, dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakan-mu.”

Niatan untuk memonopoli harta ini bisa terlihat saat orang mulai bagi-bagi profit dalam sebuah bisnis. Di antara mitra. Hendaknya profit dibagi sesuai jerih-payah alias kontribusi masing-masing. Lumrahnya begitu.

Nah, dari pembagian ini, sedikit-banyak kita bisa menilai karakter dan kecenderungan masing-masing. Siapa yang mendominasi dan memonopoli. Siapa yang menerima apa adanya. Siapa yang nggak paham sama sekali.

Saat ini, dunia sudah sesak dengan kapitalis-kapitalis negatif yang orientasinya menumpuk harta. Sebagian kita, sadar atau tanpa sadar, meniru mereka. Saran saya, ini jangan ditiru. Kalaupun ada hasrat untuk itu, yah dikikis.

Gimana caranya? Pertama, etis dan proporsional dalam mengambil profit. Kedua, gemar berbagi entah itu sifatnya internal (tim) maupun eksternal (sesama). Ketiga, tidak latah dalam membuka bisnis baru.

Belasan tahun saya berbisnis dan berinteraksi dengan pengusaha-pengusaha, jarang sekali saya melihat pengusaha yang memenuhi tiga ketentuan itu. Paling banter yah gemar berbagi doang. Tapi sangat berlebihan untuk urusan profit dan ekspansi bisnis baru.

Jujur saja, dulu pun saya pernah keliru dalam ekspansi bisnis baru. Kemudian ini saya perbaiki.

Di satu sisi, Islam memberi kelonggaran pada kita untuk urusan profit. Namun di sini lain, Islam juga mengingatkan kita soal adab (etis) dan keadilan (proporsional). Berimbang. Semoga pemaparan sederhana ini menjadi bahan renungan buat kita semua, terutama buat saya.

Itqan

Saya entrepreneur. Tapi saya sangat menghormati mereka memilih untuk bekerja, jadi karyawan. Di buku Success Protocol, saya pernah menyerukan, “Bekerjalah dengan itqan.”

Artinya:
– teliti
– hati-hati
– sepenuh hati
– bermutu tinggi
– sulit disaingi

Apalagi kita sama-sama tahu, kerja adalah ibadah. Berkah insya Allah. Dengan memaknai kerja adalah ibadah, semoga kita tidak termasuk golongan  gemar mengeluh dan bergunjing di kantor.

Ada principle bekerja, niatnya sekedar untuk mendapatkan upah. sekedar untuk mengisi waktu. Tentu,  mendapatkan apa  inginkan. Tapi soal keberkahan, saya pikir nggak Akan best.

Terlepas  itu, tak semua negara mengenal konsep kerja adalah ibadah. Beruntunglah, walaupun belum sempurna penerapannya,  sedikit-banyak mengenal konsep #KerjaItuIbadah.

Kembali soal menjalankan pekerjaan dengan itqan. Sekiranya ini benar-benar terjadi, maka insya Allah kita  lebih puas, lebih bahagia, lebih bermakna, lebih dihormati, dan dibayar lebih tinggi. Jadi, sangat menguntungkan  berbagai sisi.

Pada akhirnya, saya serukan lagi, “Bekerjalah dengan itqan.

Forgiveness

Tuan rumah berjaya di event Asia Road Racing Championship 2015 di Sirkuit Sentul.

Fadli Immammuddin merayakan selebrasi kemenangannya dengan memperlambat motor menyapa supporter yang telah mendukungnya sepanjang balapan.

Namun tiba-tiba, dari belakang pebalap Thailand Jakkrit Sawangsat meluncur kencang menghantam M.

M. Fadli cidera parah, yang mengakibatkan kaki kirinya harus diamputasi.

Pebalap motor potensial itu harus menerima kenyataan karirnya di balap motor harus berakhir akibat peristiwa tadi.

Meski tidak mengalami cedera berarti, Jakkrit merasa sangat bersalah atas peristiwa tersebut dan memutuskan berhenti dari balapan.

Mendengar itu, Fadli justru berangkat ke Thailand, menemui Jakkrit, dan menyampaikan bahwa ia telah memaafkan, ia telah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.

Bagi juara sejati, hanya ada satu pilihan : terus bergerak maju.

Selain menjadi mentor pebalap muda, Fadli adalah atlet Para Cycling yang berprestasi.

Di Asian Para Games 2018 lalu medali Perak dan Emas mampu diraihnya.

Fadli telah mengikhlaskan apa yang menimpanya, memaafkan orang yang memicu keadaan yang tidak diinginkan.

Dan karenanya dia terbebas dari beban yang dapat menghambatnya bergerak maju.

Banyak diantara kita memilih untuk “memelihara” dendam, sakit hati, marah atas sebuah peristiwa atau seseorang di masa lalu.

Tanpa menyadari bahwa energi negatif yang terus dipelihara akan menggerogoti kesehatan batin dan bahkan fisik.

Seperti punya sebuah luka namun tak ingin luka itu sembuh.

“Aaah tapi kan susah … Gak ngalamin sendiri sih, betapa jahatnya orang itu, betapa sakitnya hati ini …”

Kita bisa memulai berlatih dengan melakukan untuk hal-hal yang lebih sederhana.

Mungkin sesederhana memaafkan rekan kerja yang tadi waktu meeting komentarnya ngeselin?

Atau memaafkan teman yang pas jaman kampanye pilpres sering posting jelekin jagoan Anda?

Dan bayangkan orang yang Anda maksud hadir di depan Anda, dan sampaikan bahwa Anda sudah memaafkannya mengikhlaskan perbuatannya, dan meminta agar dia juga memaafkan Anda.

Semakin sering dilakukan, otot “memaafkan” Anda akan semakin kuat, dan siap untuk memaafkan hal-hal yang lebih “besar”.

Langkah Sukses

Guys, Ingin di Pandu Langkah Langkah Membangun Bisnis Besar Perusahaannya?

Tahukah anda Kenapa BEBERAPA orangutang LEBIH SUKSES daripada yang Lainnya ?Orang yang SUKSES, LEBIH AMBISIUS terhadap impian mereka.

Saya percaya sebenarnya tidak ada orang yang MALAS, hanya saja Mereka kurang Ambisius.

Einstein bilang “Orang2 melihat saya sukses dan mereka mengira saya lebih pintar.

Padahal tidak, saya hanya BERTAHAN lebih lama dibandingkan yang lainnya”

Jika inging berhasil, BEKERJA lah lebih Keras pada diri kita, daripada bekerja lebih keras pada pekerjaan kita.

Orangutang yang SUKSES, LEBIH BERUNTUNG KARENA ADA Intellect.

Ada namanya Stupid Cost, itu semacam BIAYA yang harus kita bayar karena kita Bodoh.

Lampu Gantung dari kardus

Dengan memanfaatkan kardus bekas, kamu bisa membuat kerajinan tangan lampu gantung.
Kerajinan tersebut bisa kamu jadikan hiasan di rumah sehingga membuat rumah kamu terlihat lebih menarik.

Membuat lampu gantung ini tidak terlalu sulit jika kamu mengikuti langkah-langkah dalam membuat lampu gantung ini.
Selain itu, bahan dan peralatan rule dibutuhkan dalam membuat kerajinan tangan kardus berbentuk lampu gantung ini cukup mudah didapatkan dan bahkan mungkin kamu sudah memiliki bahan dan peralatannya.
Sehingga kamu hanya perlu untuk meluangkan waktu untuk membuat kerajinan tangan berbentuk lampu gantung ini.

Langsung saja bagi kamu berminat untuk membuat kerajinan tangan kardus berbentuk lampu gantung, berikut ini bahan dan peralatan yang dibutuhkan serta cara pembuatannya.

Bahan dan Peralatan yang Dibutuhkan:
Kardus bekas
Lem tembak
Lampu
Tempat lampu
Kabel
Penggaris
Pensil
Cat semprot


Cara Membuat Lampu Hias dari Kardus Bekas

Langkah pertama adalah memotong kardus.
Kardus sudah disiapkan sebelumnya dipotong dengan ukuran panjang 60cm dan lebar 21cm.
Bisa saja kamu memotong sesuai ukuran kamu sendiri.

Langkah kedua adalah mengecat kardus. Gunakan cat warna putih untuk permukaan kardus.
Permukaan kardus di cat hanya satu sisi saja dan permukaan di cat dijadikan warna dalam.
Tujuannya adalah gum cahaya lampu nantinya bisa bersinar terang.

Langkah ketiga adalah melipat kardus menjadi segilima.
Ingat, sisi dalam kardus berwarna putih dan sisi luarnya warna kardus asli.

Setelah kardus di lipat menjadi segilima, potong-potong kardus yang membentuk segilima tersebut menjadi banyak. Cara mudah memotongnya adalah dengan membentangkan lagi kardus tersebut, lalu dipotong.
Setelah dipotong, lipat kembali kardus yang sudah dipotong tersebut menjadi segilima.
Gunakan lem gum lipatan kardus tidak kembali lagi.

Susun kembali potongan kardus segilima tersebut dengan posisi berlawanan satu kardus ke kardus lainnya.
Gunakan lem agar melekat kuat.

Langkah selanjutnya adalah membuat lembaran kardus berbentuk segilima. Hal ini berfungsi untuk tempat meletakkan lampu. Buat lubang di bagian tengah kardus berbentuk segilima tersebut, lalu pasang tempat untuk lampunya beserta kabelnya.

Gabungkan lembaran kardus yang berbentuk segilima dengan potongan kardus yang disusun sebelumnya.

Proses membuat lampu hias iranian kardus sudah selesai. Kamu bisa menggunakan lampu hias tersebut di foetus atau di ruang tamu rumah.

Yang Maha Bijaksana

Melihat tetangga bahagia, merupakan bagian dari kebahagiaan kita juga. Setuju? Seperti yang terjadi pada tetangga saya, ia dititipkan amanat berupa mobil kantor dari tempat bekerjanya.

Dia tentu saja senang karena pada hari libur, mobil tersebut boleh dimanfaatkan untuk acara keluarga. Bahkan sewaktu-waktu, bisa dipakai mudik juga selama tidak mengganggu hari kerja.

Perusahaannya memang memiliki banyak unit usaha yang tersebar di seluruh Jakarta hingga ke luar kota. Karena ia duduk pada posisi sebagai pengawas tingkat kota, maka ia boleh bawa pulang mobil kantor.

Berbeda dengan pengawas tingkat lokal, yang bertugas memantau di dalam Jakarta saja, perusahaan hanya akan meminjamkan motor kantor. Adapun ia yang kadang harus meluncur ke Tangerang, Bogor, sampai Bandung tentu sebuah motor tak memadai lagi. Wajar saja jika mobil dipegang olehnya.

Perusahaan juga mengerti, bahwa tanggung jawabnya lebih besar. Maka kendaraan yang diserahkan juga harus lebih memadai. Tampaknya kebijakan seperti ini sudah umum di berbagai kantor.

Para pengambil kebijakan memegang prinsip bahwa dengan seorang karyawan bertambah tanggung jawab maka berhak pula untuk bertambah fasilitas.

Bayangkan jika manusia saja bisa sebijak ini, bagaimana dengan Allah. Sungguh Allah adalah Tuhan Yang Maha Bijaksana.

Allah telah mengatur dengan Kebijaksanaan-Nya bahwa dengan seorang hamba bertambah tanggung jawab maka berhak pula untuk bertambah rezeki.

Mari kita buktikan. Misalnya seorang lelaki yang belum menikah, tentu rezekinya berbeda dengan yang telah menikah. Karena dengan pernikahan berarti ia punya tambahan tanggung jawab kepada istrinya. Allah Maha Bijaksana. Karena itu rezekinya pasti ada tambahan pula.

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

(Surat An-Nur : 32)

Mau bukti lagi? Contohnya seorang ayah yang belum punya anak, tentu rezekinya berbeda dengan yang telah memiliki anak. Karena dengan demikian berarti ia punya tambahan tanggung jawab kepada anak-anaknya. Allah Maha Bijaksana. Karena itu rezekinya pasti ada tambahan pula.

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.”

(Surat Al-An’am : 151)

Jadi alangkah anehnya saat kita percaya sebuah perusahaan pasti memberi tambahan fasilitas pada karyawan seiring meningkatnya tambahan tanggung jawabnya, tetapi kita tidak yakin bahwa Allah akan memberi tambahan rezeki pada hamba seiring meningkatnya tambahan tanggung jawabnya.

Kode Cinta-Nya

Hidup tidak selalu mulus. Ada duka, ada derita, ada kehilangan, ada tekanan, ada gelisah, ada tantangan dan ada banyak hal yang tidak sesuai harapan. Dulu saya menganggap hal tersebut di atas adalah masalah, dan ternyata hal itu salah.

Semua itu adalah kode cinta dari Allah swt (sahabat-sahabat saya di Pola Pertolongan Allah menyebutnya pesan cinta-Nya) bahwa ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam hidup kita. Sesuatu yang memang kita butuhkan meski mungkin menyakitkan.

Ibarat kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Sang ibu menyiapkan makanan sehat buat anaknya meski sang anak tidak suka. Sementara sang anak yang merupakan “generasi micin” lebih menyukai makanan yang tidak sehat. Namun sang ibu tiada lelah menyiapkan makanan sehatnya dan terus merayu sang anak untuk memakannya karena itu penting untuk masa depan buah hatinya.

Bila sang anak bersedia makan makanan buatan sang ibu tentu perasaan ibu bahagia tiada tara. Dan kebahagiaan sang ibu akan diiringi dengan pemberian pemberian lain yang disukai sang anak.

Terkadang kita memperlakukan Allah swt seperti sang anak kepada ibunya. Kita disuguhkan kode cinta-Nya (makanan sehat) namun kita lebih memilih makanan lain (cara lain) yang justeru berdampak buruk untuk masa depan kita.

Andai kita menerima kode cinta-Nya dengan penuh suka cita kemudian lebih mendekat kepada Sang Pengirim Kode tentu Sang Pemberi Kode dengan penuh suka cita akan memberikan banyak hal yang kita pinta. Sebaliknya, bila kita marah, uring-uringan, kecewa, mengeluh atas kode cinta-Nya maka boleh jadi itulah penghalang dikabulkanya segala doa dan pinta kita. Wallahu’alam.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini

Welcome To Finlandia

Jika suatu hari Anda melihat dua orang yang melanggar lalu lintas dengan pelanggaran yang sama tetapi mendapat denda tilang yang berbeda, itu berarti Anda sedang berada di Finlandia.

Negara tempat kelahiran Nokia itu memang memiliki peraturan bahwa semakin besar pendapatan seseorang, maka ketika terjadi pelanggaran ia akan dikenai denda yang semakin besar pula.

Jadi jangan heran jika denda seorang manager bisa sepuluh kali lipat dari denda karyawan biasa, meski keduanya sama-sama hanya menerobos lampu merah. Mengapa? Karena gaji sang manager tersebut juga sepuluh kali lipat dari gaji karyawan biasa.

Pemerintah Finlandia menganggap bahwa pendapatan seseorang mencerminkan tingkat pendidikan yang ia miliki. Orang yang penghasilannya besar menunjukan ia lebih terpelajar.

Oleh karena itu, pantaslah kalau diganjar dengan denda yang lebih tinggi. Karena orang itu berarti lebih tahu apa fungsinya peraturan, apa akibatnya jika dilanggar, dan lain-lainnya, tetapi masih tetap ia terobos juga!

Kalau pendidikan tidak membuahkan kedisiplinan, lalu apa gunanya ilmu? Apa untuk hiasan saja? Demikianlah logika yang berlaku di negara beribukota Helsinki ini.

Secara tidak langsung, peraturan ini mengadaptasi dari ajaran Islam. Bukankah Allah juga mengatur bahwa orang-orang alim yang mengetahui halal dan haram, tetapi masih melakukan perbuatan dosa juga maka hukumannya lebih berat di akhirat kelak.

Rasulullah menceritakan bahwa di dalam neraka, ada orang yang isi perutnya terburai dan ia berputar-putar bagaikan seekor keledai yang menarik mesin penggiling gandum.

Penduduk neraka lalu mengelilinginya seraya berkata, “Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah kamu dahulu orang yang memerintahkan kami berbuat baik dan melarang kami berbuat dosa?”

Lalu orang itu menjawab sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim,

كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ المُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Aku memang menyeru kebaikan, padahal aku sendiri tak melakukannya. Dan aku memang mengingatkan perbuatan dosa, tetapi justru aku sendiri mengerjakannya.”

Demikianlah ganjaran yang didapat bagi orang-orang berpendidikan yang masih melalaikan perintah Allah. Mereka lebih tahu apa fungsinya syariat agama, apa akibatnya jika dilanggar, dan lain-lainnya, tetapi masih tetap ia terobos juga!

Kalau pendidikan tidak membuahkan amal saleh, lalu apa gunanya ilmu? Apa untuk hiasan saja?