Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Tag: PRJ

Mentor Bisnis

Kalau Anda ingin pergi ke suatu destinasi dan Anda belum pernah sampai di destinasi tersebut, ada baiknya Anda didampingi oleh tour guide atau sejenisnya. Dengan adanya tour guide, resmi atau tidak resmi, kemungkinan besar Anda bisa mencapai destinasi itu dalam waktu yang lebih cepat.

Bukan itu saja, Anda pun akan diberitahu spot-spot terbaik (terindah) di destinasi tersebut. Misalnya pekan lalu, ketika saya berada di Cameron Highland bersama partner-partner, kami dijamu dan dipandu oleh pengusaha hebat Coach Nick bersama tim. Alhamdulillah, perjalanan yang sangat menyenangkan dan sangat berkesan.

Dalam bisnis, ini juga terjadi. Namanya mentor. Dia adalah sumber ilmu.

Masih soal mentor. Di seminar-seminar sering saya sampaikan bahwa Nabi Muhammad saja punya mentor. Ini beneran. Untuk urusan bisnis, yang menjadi mentor adalah pamannya. Untuk urusan agama, yang menjadi mentor adalah Malaikat Jibril.

Boleh dibilang, mentor adalah pihak yang bisa membimbing kita menuju impian kita, karena dia lebih dahulu mencapainya dan dia bisa mengajarkan cara-cara untuk mencapainya. Hm, apakah ini penting? Bukan saja penting, tapi sangat penting!

Ada orang yang bisa mencapai, namun tidak bisa mengajarkan. Sebaliknya, ada orang yang bisa mengajarkan, namun belum pernah mencapai. Ini dua hal yang berbeda. Dan kedua-duanya perlu. Kalau cuma salah satu, yah kurang optimal proses mentoring-nya.

Sekiranya kita harus mengorbankan waktu dan uang demi mendekati sang mentor, yah keluarkan saja. Saya pun begitu, dari dulu sampai sekarang. Hasil akhirnya, malah menghemat waktu dan uang saya. Karena saya tahu persis, coba-coba sendiri jauh lebih lama dan jauh lebih mahal.

Pada akhirnya, belajarlah. Cari ilmu. Cari mentor. Dengan menerapkan ilmu dari seorang mentor yang ahli dan bijak, mudah-mudahan nasib kita akan lebih baik. Ya, lebih baik. Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Membangun reseller militan

Assalamualaikum. Semoga semuanya sehat, masih dari kota palembang FJS menuliskan ini untuk berbagi ilmu.Semoga bermanfaat buat semua yang di group ini.Tulisan hari ini adalah tentang membangun Reseller militan.

Seringkali banyak orang mengeluh bahwa punya banyak reseller tapi banyak yang tidak aktif. Bagaimana mengaktifkannya.?

Bagi kita yang mengidentifikasikan diri sebagai penjual online, ada sebuah buku yang bagus untuk dibaca judulnya “Media social Bible” (Kitab Suci Media Sosial).

Buku ini direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin fokus mengembangkan bisnisnya menjadi yang ternama dengan menggunakan media sosial di internet.

Ada point menarik yang selama sebulan terakhir saya pelajari dan lakukan; tentang bagaimana membangun engagement di media sosial.
Pemahaman tentang cara membangun hubungan dan keterikatan antara brand  dengan audiensi di media sosial menjadi kebutuhan yang mesti kita penuhi sebagai syarat membangun bisnis online.
Dalam bab membangun engagement di media sosial antara kita dan audiensi, ada hal pokok yang sebelumnya perlu kita ketahui:
1. Bahwa di media sosial, Content Is The King. Singkatnya, bahwa audiensi kita di media sosial hanya akan menjadi loyal jika mereka dapat merasakan manfaatnya dari konten yang kita berikan. Orang di media sosial dapat dengan cepat memutuskan untuk menjadi followers/fans jika ia merasakan manfaat dari konten yang kita berikan.
2. Masuk ke dalam ranah media sosial tidak berarti melulu berjualan ataupun berpromosi. Namun yang lebih penting dari itu adalah membangun brand bisnis dan meningkatkan ketertarikan antara perusahaan kita dengan audiensi.
Dengan memahami kedua hal ini, maka selanjutnya untuk dapat membangun keterikatan ini, ada empat Pilar yang harus kita bangun:
1. Communicate

Komunikasi di media sosial yang baik terjadi apabila ada komunikasi dua arah, karenanya penentuan topik/tema komunikasi menjadi penting untuk diperhatikan.
Tanda bahwa komunikasi dengan audiensi baik adalah kita mendapatkan feedback dari status atau tulisan yang kita share di media sosial (Facebook), feedback dapat berupa komentar, like atau share. Semakin banyak yang didapat maka komunikasi yang kita bangun semakin efektif.
Maka kita perlu juga, disamping melakukan share foto2 produk kita, sesekali perlu untuk share juga content2 yang menarik, lucu, unik, atau bijak. Jika mampu, maka balaslah setiap koment yang diberikan oleh audiens pada content kita.
Seringkali kita sekedar sharing konten lalu mengabaikan komentar, like atau share yang ada. Jika kita membalas komentar maka kita telah membangun komunikasi yang efektif, dan pada akhirnya brand kita akan mudah dikenal.
Dalam konteks bisnis saya, hubungan komunikasi dibangun dengan membuat grup di Facebook yang isinya antara saya dengan semua reseller.
Seringkali obrolan di grup WhatsApp antar reseller hingga jam 12 malam, tentang apa saja, mereka saling bantu jika ada yang tanya ongkir, spek produk Raihan, dll.
Membangun komunikasi dua arah adalah langkah awal untuk membangun keterikatan jangka panjang antara perusahaan kita dengan audiensi kita di media sosial.
2. Collaborate

Membangun kerjasama antara kita dengan audiensi adalah tahapan selanjutnya setelah berhasil membangun komunikasi. Membuat audiens merasa memiliki brand kita, audiensi merasa dekat dan menjadi bagian dari brand kita adalah fokus dari tahapan kedua ini.
Ada contoh kolaborasi yang diceritakan dalam buku “Social Media Bible” ini; sebuah website yang dibuat oleh Starbuck untuk membangun komunitas pelanggan, dimana di dalamnya pelanggan dapat memberikan masukan, ide, saran dan ngobrol semua hal tentang Starbuck.
Banyak brand besar yang membangun komunitas yang berhubungan dengan brand-nya dan berkolaborasi dengan komunitas tersebut dalam rangka mengikat anggota komunitas semakin dalam dengan brand perusahaan.
Membangun kolaborasi adalah bagian daripada membangun keterikatan antara brand kita dengan audiensi yang ada di lingkaran media sosial brand kita.
3. Educate

Mengedukasi audiensi tentang produk atau yang berhubungan dengan produk kita adalah tahapan yang bertujuan agar muncul kesadaran di dalam diri audiens tentang pentingnya produk kita, seperti yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Forex misalnya,banyak mengadakan edukasi tentang investasi kepada audiensi agar sadar tentang pentingnya edukasi.Dan pada akhirnya bertujuan untuk mengikat audiensi.
Bisa juga edukasi dilakukan untuk tujuan lain yang pada intinya memberikan manfaat kepada audiensi. Misal untuk Online Shop yang jualan baju ketika memberikan konten tentang cara memcuci baju agar baju awet, atau membedakan penjual jujur dan tidak, atau konten lain yang mengedukasi dan memberikan manfaat.
Hampir setiap malam aku biasanya menghabiskan waktu untuk membuat tulisan dan di-share ke grup jualan Raihan, tema-tema edukasi diantaranya tentang bagaimana menjual, bagaimana beriklan, bagaimana merayu calon pembeli, bagaimana menghadapi komplain, dan tema lain yang selalu di-share ke reseller.
Banyak tanggapan positif atas materi edukasi yang sering aku share, komentar reseller diantaranya, berterima kasih, merasa sangat tertolong, merasa beruntung bergabung di grup, dll.
4. Entertain

Sesekali berilah kontent hiburan, lucu, unik atau yang lain.Banyak konten yang aku share grup Raihan, terutama yang lucu-lucu.

Kembangkanlah ide dalam mengimplementasikan ke empat pilar membangun engagement (ikatan) dengan audiensi diatas, sesuaikan dengan industri dan karakter audiens kita masing-masing. Dan jangan lupa bahwa di media sosial konten adalah hal yang penting.

Semoga dapat membantu kita dalam membangun bisnis kita masing-masing.

Happy doing business.
FJS

Penjual Pemula

Sekiranya kita pemula ada baiknya memilih produk dengan ciri-ciri berikut:

High margin. Bukannya kita serakah. Tapi dengan adanya margin yang lumayan, kita bisa berbagi keuntungan dengan reseller dan agent. Kalau margin mepet, gimana mau bagi-bagi?

Easy to keep and deliver. Mudah disimpan, mudah dikirim. Jangan sampai nyita space ketika disimpan. Jangan sampai terbebani ongkir ketika dikirim. Bukan apa-apa, sebagai pemula, biasanya kita belum punya gudang dan armada.

Repeat order. Keberlangsungan sebuah bisnis sangat ditentukan oleh repeat order. So, pilih produk yang tinggi repeat ordernya. Setiap minggu atau setiap bulan, konsumen beli terus. Jangan sampai hari-hari kita cari-cari konsumen baru terus. Ini sangat melelahkan dan costly.

Mentor. Seberapa besar peran seorang pembimbing (mentor)? Sangat besar pastinya. Karena dia lebih ahli dan lebih pengalaman daripada kita, sehingga dia bisa bantu mengarahkan strategi-strategi bisnis kita.

Endorsement. Kita mungkin tidak peduli soal artis dan tokoh-tokoh terkenal. Tapi konsumen awam biasanya peduli. Ada baiknya produk kita di-endorse oleh artis dan tokoh-tokoh terkenal sehingga lebih mudah untuk dijual dan berpotensi untuk viral.

Satisfying quality. Mutu yang memuaskan ini adalah keharusan. Saran saya, mutunya nilai 9. Kenapa? Karena ini akan menghemat biaya promosi, berhubung konsumen yang sukarela memberikan testimoni dan posting sendiri di mana-mana.

Nah, ini semua dirangkum dan diringkas oleh Wendi Abdillah (ahli hypno-selling) jadi HERMES:
– High margin
– Easy to keep and deliver
– Repeat order
– Mentor
– Endorsement
– Satisfying quality

Marketing yusuf

 

“قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّمْ فَذَرُوهُ فِي سُنبُلِهِ إِلاَّ قَلِيلاً مِّمَّا تَأْكُلُونَ ثُمَّ يَأْتِي مِن بَعْدِ ذَلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلاَّ قَلِيلاً مِّمَّا تُحْصِنُونَ ثُمَّ يَأْتِي مِن بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ ” يوسف 47- 49.

Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.
Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.
Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).”

Ayat ini bicara banyak hal. Produksi, konsumsi, saving, investasi, pertukaran, manajemen logistik, bahkan marketing, terangkum oleh ayat-ayat itu.

Secara eksplisit ada pesan untuk produksi gandum selama tujuh tahun. Proses produksi dilakukan seperti biasa, tak ada intensifikasi atau ekstensifikasi. Padahal, produksi satu tahun akan digunakan untuk konsumsi dua tahun (7 tahun untuk 14 tahun).

Kemudian dilakukan proses takhziin (penyimpanan dan penggudangan). Tersurat pada ayat ini manfaat formal dalam marketing yang terjadi dalam aktifitas produksi.

Secara implisit tersirat makna utilitas waktu (manfa’ah zamaniyah) yang terjadi dalam penyimpanan karena mereka akan mengkonsumsi hasil panen selama beberapa tahun ke depan.

Selanjutnya, surat Yusuf ayat 88 menyebutkan:

“فَلَمَّا دَخَلُواْ عَلَيْهِ قَالُواْ يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُّزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ”.

Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, “Wahai Al-Aziz! Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka penuhilah jatah (gandum) untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang yang bersedekah.”

Tersurat pada ayat ini bahwa pengalihan kepemilikan barang dilakukan dengan cara barter, atau dengan standar harga tertentu.
Dan secara implisit menyiratkan manfaat kepemilikan. Ayat ini juga menyebutkan prinsip-prinsip moral dan sosial dalam transaksi jual beli. Dan secara khusus menyatakan pentingnya konsideran unsur kemanusiaan dalam mengambil keputusan untuk memberikan memberikan layanan terbaik.

“Marketing itu tidak berinteraksi dengan manusia sebagai konsumen, tapi dengan manusia yang memiliki ruh, hati, dan akal” (Kotler).

Wallahu a’lam bisshawab

http://tazkiyatuna.com

Pondasi pendampingan bisnis

Tidak perlu semuanya minta Saya jadi komisaris perusahaannya. Saya waktunya terbatas. Kapasitasnya pun terbatas. Diluar sana, banyak yang hebat-hebat ilmunya. Dan mungkin lebih pas menamani direksi Anda mengeksekusi bisnis.

Tentang pola pendampingan Saya di D’ninis Bakery Kota Wisata Cibubur, konsep dasarnya akan Saya share terbuka, silakan saja diterapkan di bisnis nya masing-masing.

Berikut pola pendekatan yang Saya terapkan.

Pada langkah pertama, Saya membangun kesepakatan dengan owner terlebih dahulu. Apakah sang pemilik siap bertumbuh atau tidak? Apakah benar-benar serius untuk membangun bisnis melebihi kepentingan pribadinya? Ini penting bagi Saya. Jika tidak, kita tidak akan kemana-mana.

Pada langkah kedua, Saya meminta organisasinya melakukan audit terbuka pada kondisi keuangannya. Hal ini sering Saya ajarkan di program Pelatihan Financial Literacy yang sudah saya sederhanakan. Bahkan lengkap Saya ajarkan di http://melekfinansial.co

Audit terbuka ini berfungsi sebagai medical check up perusahaan. Kondisi perusahaan harus benar-bemar diukur secara kuantitatif melalui angka-angka yang lahir dari kondisi real di lapangan. Dan laporan keuangan inilah yang benar-benar menjadi ukuran sebenarnya dari kondisi bisnis.

Langkah yang ketiga adalah membangun kesadaran operasional harian. Di D’ninis Bakery, Saya memaksa para direksi untuk mengikuti detak operasional harian. Angka-angka penjualan yang tercipta setiap hari, angka pembelian, angka biaya, dan seterusnya.

Harus dirasakan setiap hari.
Harus ditatap setiap hari.
Harus diikuti setiap hari.

Cukuplah seorang pelaksana bisnis merasakan detak bisnis harian, untuk kemudian menemukan pola, cara, pendekatan, dan banyak lagi temuan yang paling pas untuk bisnisnya.

Disini sebenarnya kekuatan sederhana yang bisa Anda terapkan pada bisnis Anda masing-masing.

Ikuti gerak angka bisnis Anda dalam skala harian. Secara tidak langsung, Anda akan sadar, apakah penjualan Anda sudah layak atau tidak. Lalu secara tidak langsung, Anda akan menyadari biaya-biaya yang sebenarnya menggembosi bisnis Anda.

Intinya, angka-angka yang Anda lihat akan MENUNTUN Anda ke ide strategi yang harus dieksekusi.

Tinggal disiplin.
Tinggal dilaksanakan.
Tinggal dipakai.

Begitu ya….

Saya senang nulis bisnis, Saya senang ngajarin hal-hal sederhana yang mungkin bermanfaat untuk sahabat pengusaha.

By Rendy Saputra

CROSSING THE CHASM

Ilmu ini Saya dapatkan dari mas Indrawan Nugroho. Lalu kemudian Saya mendalami lebih dalam di beberapa literatur yang Saya baca.

Crossing The Chasm adalah sebuah Buku yang ditulis oleh Geoffrey Moore, seorang ahli Organisasi dari Amerika yang membahas tentang bagaimana membangun strategi marketing yang siap menggilas kompetitor.

Moore sebenarnya terinspirasi dari “Technology Adoption Life Cycle” yang merupakan hasil riset Beal dan Bohlen pada 1957. Pada 1994, Richard J Hernnstein seorang Psikolog dan Charles Murray seorang Poltical Scientist menyebutnya dengan “Bell Curve”.

Adoption Life Cycle ini sebenernya sangat sederhana, ini tentang bagaimana sebuah produk diadopsi oleh pasar.

Geoffrey Moore menjelaskan dan membagi market menjadi 5 bagian besar, berdasar atas kemampuan adopsinya atas sebuah produk atau inovasi.

Jika kita sebagai pebisnis mendeliver sebuah produk yang baru, maka yang pertama merespon adalah Kaum Innovators. Setelah kaum innovators menyerap, kaum early adaptors langsung menyerap cepat. Kedua kaum ini adalah dua lapis besar segmen yang siap memgadopsi produk Anda di awal-awal.

Berita buruknya, kedua lapisan ini hanya berjumlah 16% dari seluruh market share, innovators 2,5% dan early adopters 13,5%. Jika kita hanya berharap dibeli oleh dua lapis kaum ini, maka kita tidak akan pernah bisa meraih seluruh market share.

Lalu dimanakah populasi besar market berada? Mereka ada di bagian kaum Early Majority dan Late Majority. Kedua lapisan ini memenuhi 68% market share. Jadi, jika Anda ingin masuk ke pasar yang sangat luas, Anda harus mampu menerobos Early Majority dan Late Majority.

Disinilah teori Crossing The Chasm dibutuhkan. Kita harus berfikir tentang bagaimana agar produk yang semula sudah diserap Innovators dan Early Adopters ini kemudian bisa MENYEBERANGI JURANG menuju lapis Majority.

Secara sederhana, kuncinya hanya 1 : bagaimana membuat produk Anda mampu diterima oleh Innovators dan Early Adopters, sehingga mereka akan menjadi topangan produk Anda menuju kaum Majority.

Mengapa? Karena kaum majority ini selalu bertanya kepada kaum Innovators dan Early Adopters, apakah produk Anda bagus atau tidak. Kalo bagus, product Anda bisa Crossing The Chasm. Kalo busuk, product Anda akan terjerembab di jurang dalam.

*

Untuk lebih memahami bagian demi bagian dari Adoption Life Cycle, ijinkan Saya untuk kemudian membahas lapisan ini bagian demi bagian.

1. Kaum Innovators
Kaum ini memiliki tiga ciri besar : mereka lebih sejahtera, lebih terdidik dan mereka suka akan resiko.

Karena lebih sejahtera, mereka memiliki daya beli yang tinggi. Karena sejahtera ini pula lah, mereka gak terlalu banyak pertimbangan untuk memutuskan membeli. Kalo ada yang baru ya beli, kan horang kayah.

Hal lain yang membuat kaum innovators ini sangat cepat membeli produk baru adalah… karena mereka akrab dengan resiko. Kalo ada produk baru, mereka langsung beli, mau bagus atau nggak, mereka yang ingin mencoba untuk pertama kali.

Tapi sayangnya, kaum ini hanya 2,5%. Ini berita baik juga untuk Anda, ada 2,5% populasi yang siap gelap mata membeli produk Anda.

2. Kaum Early Adopters
Kaum ini relatif anak-anak muda. Mereka pemimpin komunitas, namun kesejahteraannya dibawah kaum innovators.

Anak-anak muda ini sangat senang untuk mengadopsi hal baru. Selain itu, mereka relatif menjadi acuan bagi komunitas mereka. Ini yang membuat mereka selalu bergegas menyambut hal baru.

3. Kaum Early Majority
Mereka adalah sosok konservatif namun terbuka dengan ide-ide baru. Kaum ini juga aktif bersosialisasi di komunitas yang ada.

Karakter sifat dari kaum inilah membuat early majority relatif bersegera menyambut dorongan dari kaum early adopters. Tapi intinya begini : kaum di early majority harus memberi kesaksian yang positif, baru kemudian kaum Early Majority mau bergerak menyerap.

4. Kaum Late Majority.
Kaum ini adalah kaum yang relatif tua, tidak teredukasi dan sedikit sekali berinteraksi dengan komunitas.

Jika kaum early majority sudah menyerap sebuah produk dan happy, barulah kaum late majority mau menyerap produk tersebut.

Early majority dan late majority menempati masing-masing 34% market share. Berarti total market share pada dua lapisan ini berjumlah 68%.

5. Terakhir adalah Kaum Laggards
Ini kaum tua, sangat-sangat konservatif, relatif kurang sejahtera dan tidak terdidik.

Populasi laggards ini 16%. Di populasi ini, walau hari ini sudah nenggunakan WA, mereka masih memakai SMS.

*

Menuju 10 juta penonton, adoption life cycle ini menuntun Saya untuk berfikir keras. Bagaimana film ini bisa ditonton lebih banyak innovators dan early adopters, dan bagaimana film Bunda bisa crossing ke kaum majority.

Untuk 10 juta penonton, PH Inspira harus berfikir tentang bagaimana agar film ini bisa ditonton 1 juta penonton pada 3 hari pertama.

Lahirlah Program Pre Sale tiket dengan melibatkan banyak reseller. Semua program inspira ini, lahir dari pendalaman riset Moore dan Rogers. Memadukan teori market yang dibawakan oleh ahli marketing, ahli psikologi, hingga sosok ahli politik.

Semoga terjawab semua teka teki program kami.

Rendy Saputra

Menjual Rumah dan Tanah

Dari Said bin Huraits -radliyallahu anhu- berkata, Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

( مَنْ بَاعَ دَارًا أَوْ عَقَارًا فَلَمْ يَجْعَلْ ثَمَنَهَا فِي مِثْلِهِ كَانَ قَمِنًا أَنْ لَا يُبَارَكَ لَهُ فِيهِ )

“Barang siapa menjual rumah atau tanah, kemudian tidak menggunakan hasil penjualannya itu untuk membeli yang sejenisnya, maka dia tak layak mendapatkan berkah padanya” (HR. Ahmad, hadits hasan).

Aslinya, bumi itu dicipta oleh Allah -taala, diberkahi dan ditentukan padanya makanan-makanan bagi penghuninya (QS. Fushilat: 10). Karena itulah, menurut Abu Jafar al Thahawi -rahimahullah, orang yang menjual tanah berarti menjual apa yang diberkahi oleh Allah. Bila hasil penjualan itu dirupakan selain tanah, maka berarti mengganti sesuatu yang diberkahi dengan yang tidak diberkahi.

Menurut Abdullah Ibrahim al Lahiidan, Guru Besar Fakultas Dakwah Jamiah al Imam, bahwa fiqih merupakan bekal bagi muslim dalam berinteraksi dengan harta dan bisnis. Fiqih yang dimaksud bukan hanya fiqih hukum yang berbicara tentang halal-haram, tapi juga fiqih tentang sunnatullah dalam untung-rugi, dan fiqih tentang pengalaman masa lalu.

Hadits yang diriwayatkan oleh Said bin Huraits di atas bicara tentang fiqih-fiqih itu. Al Qursyi -rahimahullah- menulis dalam Al Kharaj bahwa Usman bin Madhun -radliyallahu anhu- berkata, “Aku dapati apa yang diucapkan oleh Ahli Kitab bahwa dalam Taurat tertulis ‘barang siapa menjual tanah dan tidak menjadikan hasil penjualan itu untuk membeli yang semisalnya, maka dia tak diberkahi.

Fiqih sunnatullah dalam untung-rugi, dijelaskan oleh Mula Ali al Qari -rahimahullah, yang berpendapat bahwa tidak dianjurkan menjual tanah atau rumah yang kemudian hasil penjualannya digunakan untuk membeli barang bergerak. Karena barang tak bergerak (tanah, rumah) memiliki banyak manfaat dan kecil risiko, kecil kemungkinan dicuri atau dirampas orang, berbeda dengan barang bergerak. Karenanya, lebih baik bila (tanah, rumah) tak dijual. Seandainya dijual lebih baik hasil penjualannya dirupakan yang semisalnya.

Adapun hukum yang dikandung, bahwa hadits ini tidak menunjukkan haramnya menjual tanah dan rumah, tapi berisi targhib (motivasi, dorongan) untuk mengelola tanah dan menjadikannya produktif. Hukum menjual tanah atau rumah ini berbeda-beda menurut situasi dan kondisi yang melatarinya.

Bagi yang memiliki tanah lebih atau rumah lebih dari yang dibutuhkan untuk diri dan keluarganya, tak mengapa menjualnya, demikian pula bila hasil penjualan itu digunakan untuk membeli yang sejenis.

Tetapi, bila seseorang sangat membutuhkan rumah atau tanah, kemudian ia menjual satu-satunya rumah yang ia butuhkan, tapi tidak menggunakan hasil penjualan itu untuk membeli yang sejenis, maka tak diberkahi.

Dan bila ia menjualnya untuk melunasi tanggungan hutangnya, maka yang demikian dibolehkan dan tidak termasuk dalam pengertian hadits di atas.

Dalam shahih Al Bukhari diriwayatkan bahwa Zubair bin Awwam -radliyallahu anhu- memiliki tanggungan hutang yang besar, disamping properti yang dimilikinya juga banyak. Saat beliau wafat, sebagian rumah dan tanahnya dijual untuk melunasi hutang dan tanggungannya.
Wallahu a`lam bisshawab

Ustadz Ahmad Djalaluddin
http://tazkiyatuna.com

Siapa Yang Mensholati Saya?

Hari Senin, 29 Juli 2019, usai memberikan training untuk para pimpinan Pancaran Group, saya mendapat kabar teman kuliah saya di IPB, Tina Paramita meninggal dunia. Saya langsung meluncur ke rumah duka di Bojong Kulur Bogor.

Pukul 19.07 saya tiba di rumah duka, namun saya sudah terlambat. Jenazah sudah dibawa ke Bandung untuk dimakamkan di sana.

Mungkin Anda tidak mengenal Tina Paramita, tetapi perlu Anda tahu bahwa yang mensholatkan sahabat saya ini adalah para tokoh kebaikan, salah satunya adalah Prof. Didin Hafiduddin, yang rumahnya 2 jam perjalanan ke rumah duka.

Selain Tina Paramita wanita solehah, suami beliau Dudi Iskandar juga orang yang soleh dan tawadhu. Meski jabatan Kang Dudi adalah salah satu direktur di BPPT, ia tetap hidup bersahaja.

Tina, disholatkan di dua tempat, Bogor dan Bandung. Selalu ramai orang yang ikut mensholatkan. Itulah salah satu nikmat orang yang meninggal.

Di dalam perjalanan pulang ke rumah, saya bertanya pada diri sendiri “Andai saya meninggal nanti, siapa yang akan mensholati saya? Siapa yang akan berada disisi saya, membimbing mengucapkan kalimat “Laa illaha illallahu?”

Siapakah yang akan mengantarkan saya ke kuburan? Siapakah yang mendoakan saya agar terhindar dari azab kubur? Siapakah yang menguatkan orang-orang yang saya tinggalkan?.

Makhluk hidup itu berkumpul dengan yang memiliki sifat dan karakter yang sama. Kambing berkumpul dengan kambing, ayam berkumpul dengan ayam. Serigala berkumpul dengan serigala, buaya berkumpul dengan buaya.

Orang baik berkumpul dengan orang baik. Maka saat saya kelak saat meninggal ingin disholati oleh banyak orang baik, saya perlu banyak berbuat baik dan bergaul serta bersahabat dengan orang baik. Semoga saya bisa.

Ya Allah, siapakah kelak yang mensholati saya? Mengkafani saya? Memandikan saya? Mendoakan saya? Dan menemani saya diujung kematian saya? Semoga banyak orang baik yang dengan tulus melakukannya untuk saya.

Terima kasih Tina Paramita atas kebaikan dan keteladanmu selama ini. Saya menjadi saksi bahwa kamu orang baik dan sangat layak berada di tempat yang baik, surga terbaik.

Salam SuksesMulia