Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Author: Kemayoran

Teori Ketidakpastian

Mungkin tiga tahun lalu, atau empat tahun. Entahlah, saya sendiri sudah tidak ingat. Yang jelas, lelaki itu datang ke rumah dan menceritakan penyakit kronis yang dideritanya dengan sangat lemah.

Ia adalah teman kecil saya, dari ceritanya tampak benar bahwa ia sudah pasrah kalau memang harus menghadap Allah dalam hitungan minggu atau bulan. Pengobatan medis sudah ditempuh namun tidak menunjukkan perbaikan.

Pengobatan alternatif sudah dilakoni pula, namun tetap saja penyakit itu semakin menggerogoti tubuhnya. Masa depannya sudah cukup pasti baginya, bahwa ia akan mengalah juga kepada penyakitnya kelak.

Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya? Ternyata, sampai hari ini saya masih sering berpapasan dengannya di jalan. Tubuhnya cukup sehat, dan masih mampu membawa motor sendiri. Begitulah masa depan, tidak ada yang pasti.

Apa yang akan terjadi pada kita masing-masing di masa depan benar-benar sesuatu yang tidak pasti. Menjadi sehat atau sakit, berubah kaya atau miskin, bahkan iman di dalam hati ini tak ada yang tahu bagaimana kelak.

Anehnya, banyak orang justru menganggap masa depannya sudah pasti, sehingga mereka cemas berlebihan. Tidakkah mengherankan jika kita mencemaskan apa yang tidak kita ketahui dengan pasti?

Dahulu ada seorang perempuan yang mengaku menjadi nabi hanya beberapa bulan setelah wafatnya Rasulullah. Ia memiliki ribuan pengikut, hingga cukup berani menantang kaum muslimin di Madinah. Namanya Sajjah At-Tamimiyah.

Namun sang perempuan itu menyusun strategi yang lebih matang, ia menikah dengan Musailamah Al-Kazzab. Maka jadilah seorang nabi palsu perempuan yang bersuamikan seorang nabi palsu lelaki. Bayangkan bagaimana kesesatan yang sangat besar itu.

Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan muslim untuk menghentikan kezaliman mereka, agar jangan sampai bertambah banyak umat muslim yang murtad. Peperangan sengit pun terjadi. Musailamah Al-Kazzab mati terbunuh.

Sang perempuan itu berhasil melarikan diri ke Basrah, kemudian ia bertaubat dan menjadi muslimah yang baik hingga wafatnya. Jenazahnya dishalati oleh gubernur Basrah yang memimpin saat itu.

Bagaimana mungkin masa depan seorang perempuan yang menjadi nabi palsu dan menyesatkan ribuan orang itu bisa berakhir dengan amat baik? Sekali lagi, karena masa depan tidak ada yang pasti.

Saudaraku, cobaan apapun yang sedang kita alami saat ini, sama sekali tidak menggambarkan masa depan bagaimana. Jangan berlebihan dalam memikirkan masa depan, seolah-olah kita sudah tahu pasti apa yang akan terjadi.

Sebagai seorang muslim, tugas kita adalah berprasangka baik dan terus menerus berdoa kepada Allah. Karena ketidakpastian masa depan kita itu berada dalam kekuasaan Allah. Maka serahkan sepenuhnya kepada-Nya.

Honk more wait more

Mumbai adalah salah satu kota di India yang terkenal dengan tingkat kebisingan jalannya. Para pengemudi kendaraan di sini senang sekali membunyikan klakson meski lampu lalu lintas masih menyala merah.

Polisi Mumbai berkomentar tentang fenomena ini, “Mereka berpikir kalau klakson dibunyikan akan mempercepat lampu segera hijau kembali!”

Sebenarnya semua orang tahu, membunyikan klakson tidak menyelesaikan masalah. Justru hanya menambah masalah baru, yaitu kebisingan. Namun orang-orang tetap saja melakukannya karena tidak sabar. Akibatnya, semakin bising hanya membuat semakin kacau suasana.

Kepolisian Mumbai lantas memasang alat yang mendeteksi kebisingan di sebuah lampu lalu lintas. Jika banyak klakson berbunyi, lampu itu akan menambah durasi untuk terus menyala merah. Kemudian sebuah papan informasi mengeluarkan peringatan, “Honk More Wait More.” Semakin berisik, semakin lama menunggu.

Alat detektor itu ampuh juga rupanya. Kini para pengemudi bisa menahan diri untuk membunyikan klakson, karena hanya itu satu-satunya cara agar lampu bisa menyala hijau. Mereka sekarang dengan tenang bisa menikmati menunggu lampu merah.

Pesan dari kisah di atas cukup jelas. Setiap masalah sebenarnya cukup kita hadapi saja, tanpa perlu banyak komentar dan bising. Terkadang masalah yang sebenarnya biasa-biasa saja itu menjadi besar justru karena kita yang terlalu banyak bicara dan berkeluh kesah.

Pada suatu malam listrik mati total di seluruh lingkungan kami. Saudara tentu tahu apa yang terjadi jika listrik mati di Jakarta yang panas? Tak ada kipas, tak ada AC, dan kami akan tidur dalam keadaan gerah dan pengap.

Semua anggota keluarga saling sahut menyahut, “Bagaimana kita bisa tidur malam ini? Bagaimana kalau listrik mati sampai pagi? Astaga, kita pasti tidur bermandikan keringat!”

Saya lantas menggelar karpet di ruang tamu sebagai satu-satunya ruang yang cukup lega di rumah, meletakkan beberapa bantal dan mulai memasang posisi tidur di sana. Lambat laun mereka kemudian mengikuti, dan jadilah kami satu keluarga tidur di ruang tamu!

Meski tanpa listrik, nyatanya kita semua tertidur dengan pulas! Benar saja, semakin banyak bicara dan keluh kesah akan semakin besar masalah. Honk more wait more.

Al-Quran telah memperingatkan sifat manusia yang seperti ini dalam Surat Al-Ma’arij ayat 20,

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

“Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.”

Jadi, saat sesuatu memang harus kita hadapi, ya sudah cukup jalani saja. Percayalah semua tidak seberat yang kita bayangkan saat sudah dikerjakan.

8 Ucapan Ajaib Untuk Membentuk Karakter Anak

Berikut ini 8 ucapan atau kata-kata ajaib yang penting diajarkan kepada anak-anak sejak kecil. Ucapan ini akan membentuk karakter positif anak.

*1. Salam*

Ajarkan dan biasakan ucapan “Assalamu ‘alaikum” kepada anak agar terbiasa dengan salam yang Islami. Tiap masuk rumah atau masuk kamar orangtua atau ketemu orang lain, ucapannya selalu salam. Ucapan ini membentuk *jiwa penuh kedamaian* pada diri anak.

*2. Dzikir*

Biasakan ucapan yang mengandung muatan dzikir kepada Allah dalam merespon segala sesuatu. Misalnya astaghfirullah, subhanallah, alhamdulillah, masyaallah, insyaallah, barakallah, dan lain sebagainya. Bukan ucapan: Astaga! Gila! Bego! Dzikir menciptakan karakter *taqwa* pada diri anak.

*3. Tolong*

Biasakan anak untuk mengucapkan kata ‘tolong’ setiap ia meminta bantuan kepada orang lain. Jika terbiasa dengan kata ini, akan tumbuh karakter *rendah hati dan tidak sombong.*

*4. Terimakasih*

Biasakan mengucapkan kata terimakasih untuk berbagai hal yang positif, sebagai apresiasi kepada orang lain yang telah memberikan pertolongan bagi dirinya. Anak yang tumbuh dengan *menghargai orang lain akan menumbuhkan kebesaran jiwa.*

*5. Maaf*

Ajarkan anak untuk mudah meminta maaf walaupun ia tidak melakukan kesalahan. Apalagi jika ia memang melakukan kesalahan. Anak yang terbiasa meminta maaf akan tumbuh sikap *empati dan kasih sayang.*

*6. Okay*/Iya / Baik
Ajarkan anak untuk mengucapkan kata “okay” atau “iya” atau “siap” sebagai respon dari nasihat atau perintah dari orangtua. Kadang saat ibu atau ayah meminta anak untuk melakukan sesuatu, ia hanya mengangguk atau bahkan diam saja. Ungkapan ini membentuk karakter *peduli dan menghargai.*

*7. Izin*/Permisi
Biasakan anak untuk meminta izin dalam berbagai kondisi. Misalnya minta izin untuk menggunakan benda yang bukan miliknya.
Hal ini membentuk karakter *tertib.*

*8. Bisa*

Ajarkan anak berpikir dan bersikap optimistik. *”Aku bisa”* adalah ungkapan optimistik.
Membuat anak tumbuh dengan *percaya diri*

Cara berfikir seekor kambing

Seorang penggembala kambing sedang duduk beristirahat sambil mengamati kambing-kambingnya yang sedang sibuk menikmati rerumputan di padang hijau yang luas.

Penggembala itu memegang sebuah rotan di sebelah tangannya yang tidak akan segan-segan ia gunakan untuk memecut kambing yang keluar dari kumpulannya. Bukan apa-apa, kambing yang memisahkan diri, ia nanti bisa tersesat dan membahayakan dirinya sendiri.

Para kambing pun menunjukkan sikap yang berbeda-beda berkaitan dengan hal ini. Ia yang berpikir lebih cerdas, tidak akan berani pergi jauh-jauh dari kerumunan. Karena ia sudah pernah merasakan sabetan rotan si penggembala, dan tak mungkin ia mau merasakan kedua kalinya.

Beberapa lagi suka melupakan kenyataan bahwa ia tak boleh menjauhi teman-temannya. Ketika ia melakukan hal tersebut, si penggembala akan melihatnya dan memecut satu kali kambing itu.

Cukup satu kali, karena setelah itu ia ingat akan kesalahannya dan kembali kepada barisan yang benar.

Namun ada pula jenis kambing ketiga, yang tidak juga mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia tetap saja tidak bisa diatur. Setiap kali melanggar, pecutan rotan akan melayang di tubuhnya.

Namun tetap saja ia melakukan kesalahan lagi dan lagi. Berkali-kali ditegur dengan rotan yang menyakitkan pun ia belum sadar juga. Barangkali kambing-kambing itu berpikir bahwa mereka adalah kambing, dan memang seperti itulah seharusnya sikap seekor kambing. Entahlah.

Dipikir-pikir ada benarnya juga kalau yang berbuat seperti itu adalah kambing. Justru yang menjadi pertanyaan, jika pelakunya adalah manusia. Mereka tahu hidupnya berkali-kali ditegur oleh Allah, namun belum sadar juga.

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”

(Surat Asy-Syura: 42)

Azab atau hukuman sedianya Allah berikan pada hamba-Nya sebagai teguran. Mukmin yang cerdas, tidak akan berani melanggar aturan Allah. Kalaupun pernah mengalami teguran tersebut karena lupa, maka cukup satu kali setelah itu ia ingat akan kesalahannya dan kembali kepada jalan yang benar.

Justru yang mengherankan adalah mereka yang tidak pernah bisa diatur meski sudah menerima teguran berulang-ulang. Padahal hanya kambing yang berpikir demikian, dan memang seperti itulah seharusnya sikap seekor kambing. Entahlah.

Memangnya selama ini dari mana rezekimu?

Malam itu, setelah pengajian berakhir, guru saya kedatangan seorang tamu lelaki yang hendak ramah tamah. Seperti biasa, saya hanya duduk saja mendengarkan.

Dalam suasana seperti ini sebenarnya saya cukup canggung, khawatir tamu tersebut ingin mengungkapkan hal yang agak pribadi lantas keberadaan saya membuatnya sungkan. Tapi apa boleh buat, saya selalu diperintahkan untuk diam di tempat, dan ikut berbincang enam mata di sana.

Saya tahu, mungkin di antara semua murid beliau, sayalah yang paling dangkal dalam pengalaman. Maka, mendengarkan cerita-cerita para tamu akan memperkaya pengalaman baru bagi saya.

Seperti malam itu, ada sebuah nasihat beliau yang sangat menggores di hati. Setelah lelaki tersebut berkisah panjang lebar tentang lingkungannya, keluarganya, hingga perihal rezeki, maka keluarlah nasihat guru.

“Kalau seseorang menyangka bahwa rezekinya berasal dari sumber penghasilannya, maka Allah akan menjadikan rezekinya benar-benar hanya dari penghasilan itu saja.”

Semua muridnya tahu, beliau tipe orang yang tidak banyak bicara. Tetapi begitu berkata, pasti bermakna sekali. Sungguh padat benar satu kalimat tersebut.

Bahwa banyak orang gelisah terhadap kenaikan harga, pengeluaran yang terus bertambah, serta meningkatnya biaya kesehatan dan lain-lain, sementara gaji dari kantornya benar-benar terbatas. Maka jadilah gaji yang diperoleh akhirnya tak bisa mencukupi, karena Allah sebagaimana prasangka hamba-Nya.

Pemikiran seperti ini, seolah-olah Allah tidak kuasa memberikan rezeki kepadanya dari jalan lain, kecuali hanya dari penghasilannya saja. Padahal Allah memberi rezeki dari segala penjuru,

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

(Surat At-Thalaq: 3)

Oleh karena itu kurang elok rasanya saat kita berkata, “Dari mana lagi saya bisa dapat rezeki kalau bukan dari pekerjaan saya ini.”

Atau kadang orang suka berbicara, “Toko ini satu-satunya sumber pendapatan saya.”

Padahal Allah selama ini memberi rezeki manusia dari berbagai sumber, baik yang disangkanya maupun yang tidak disangkanya. Perniagaan maupun pekerjaan, hanya salah satu dari saluran turunnya rezeki Allah tersebut.

Sebagaimana kisah seorang pemuda yang berjumpa dengan kakek berpenampilan seperti dari kampung pedalaman. Mungkin si pemuda merasa penasaran, sehingga bertanyalah ia,

“Kakek, dari mana sumber penghidupan engkau selama ini?”

“Nak, ketahuilah. Kalau Allah hanya memberi rezeki dari sumber yang kita ketahui, niscaya kita tidak bisa hidup.”

Kakek yang bijaksana itu telah membuka mata si pemuda, bahwa rezeki Allah teramat luas, tak mungkin terjangkau oleh akal pikiran kita yang sempit ini.

Tugas kita adalah mantapkan keyakinan, luaskan prasangka baik kepada Allah, bahwa sumber pendapatan kita bukanlah satu-satunya saluran rezeki-Nya.

Terminator

Pertama kali yang terbayang setelah membaca tulisan di atas pasti sebuah film laga yang dibintangi Arnold Schwarzenegger. Apalagi belum lama ini keluar seri terbarunya yang berjudul Dark Fate.

Padahal sebenarnya saya bukan mau cerita tentang film. Melainkan tentang sebuah fenomena alam yang disebut sebagai garis terminator. Yaitu, sebuah garis yang berada tepat pada perubahan bagian siang dan bagian malam di permukaan bumi.

Seperti kita ketahui planet bumi itu bulat, maka ketika matahari terbit di satu bagian bumi, masih ada bagian lain yang tidak segera mendapat cahayanya tersebut. Akibatnya satu sisi bumi sudah memperlihatkan tanda-tanda siang hari, sedangkan sisi lain masih dalam tanda-tanda malam hari.

Nah, posisi yang bertepatan di tengah-tengah kedua sisi siang dan sisi malam tersebut akan menimbulkan seolah-olah sebuah garis yang sangat halus. Inilah yang disebut garis terminator.

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (Al-Isra: 12)

Seperti kita ketahui, matahari adalah benda langit yang besar dan gagah. Suhu dalam intinya mencapai 12 juta derajat celcius. Volumenya lebih dari 1 triliun kilometer kubik. Yang artinya bisa menampung 1,3 juta planet bumi di dalamnya!

Tapi dengan kegagahan yang demikian hebat seperti itu, tetap saja matahari tak mampu menerangi seluruh bumi secara bersamaan. Ia tetap harus bergantian dengan bulan yang bahkan tidak punya cahayanya sendiri.

Begitulah pelajaran dari tata surya ciptaan Allah, agar kita tetap rendah hati. Jangan merasa lebih baik dari orang lain.

Memandang bahwa kita lebih baik itu adalah sifat Iblis, sebaliknya memandang orang lain yang lebih baik itu adalah sifat para Nabi dan Rasul. Perhatikan perbedaan yang sangat jelas dari kedua ayat ini,

وأَخِي هَارونُ هُوَ أفصَحُ مِنِّي لِسَانًا

(Musa berkata), “Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lisannya dariku.” (Al-Qashas: 34)

قَالَ أنَا خَيرٌ مِنهُ

(Iblis) berkata, “Aku lebih baik darinya.” (Al-A’raf: 12)

Lihatlah bagaimana Nabi Musa yang senantiasa merasa orang lain lebih baik darinya. Sedangkan Iblis justru merasa dialah yang paling baik dari siapapun.

Oleh karena itu, mari hiasi diri kita ini dengan sifat rendah hati. Matahari yang hebat saja tetap harus mengalah dengan bulan. Apalagi kita yang serba terbatas ini.

Akhir Bandara Kemayoran

Bandara Kemayoran ditutup setelah 45 tahun beroperasi. Pernah masuk dalam cerita komik Tintin.

PADA 31 Maret 1985, Bandara Kemayoran berhenti beroperasi. Bandara ini dianggap sudah tak layak lagi beroperasi karena letaknya di tengah kota dan kebutuhan pembangunan wilayah Jakarta Utara.

Bandara Kemayoran pernah ramai diberitakan karena disebut dalam cerita komik The Adventure of Tintin. Dalam seri Flight 714 to Sydney, diceritakan dalam perjalanannya dari London menuju Sydney untuk mengikuti kongres Astronotika Internasional, Tintin bersama Kapten Haddock, Profesor Calculus, dan anjingnya Snowy, transit di Bandara Kemayoran. Mereka beralih dari maskapai Qantas Boeing 707 penerbangan 714 ke pesawat pribadi milik milyuner Lazslo Carriedas. Mereka mengalami petualangan di Pulau Bompa, wilayah Sondonesia.

Bandara Kemayoran dibangun pemerintah Hindia Belanda pada 1934. Pembangunan itu bersama asrama tentara Belanda berpangkat mayor di Jalan Garuda. “Orang-orang pribumi lalu menyebut kawasan ini sebagai Kemayoran,” tulis Windoro Adi dalam Batavia, 1740: Menyisir Jejak Betawi.

Namun, Windoro Adi juga menyebut bahwa nama Kemayoran berasal dari nama Mayor Isaac de l’Ostale de Saint Martin. Pria kelahiran Oleron, Bearn, Prancis pada 1629 itu, terlibat perang di Jawa Tengah dan Jawa Timur saat VOC membantu Kerajaan Mataram menghadapi Trunojoyo. Pada Maret 1682, Isaac dan Kapten Tack membantu Sultan Haji menghadapi ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa.

Bandara itu diresmikan sebagai lapangan terbang internasional pada 8 Juli 1940. Pengelolanya Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM). Dua hari sebelum peresmian, pesawat DC-3 menjadi pesawat pertama yang mendarat di Bandara Kemayoran. Pesawat milik KNILM itu lepas landas dari Bandara Cililitan (sekarang Bandara Halim Perdanakusuma) untuk tes operasional Bandara Kemayoran.

Untuk memperingati ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina, pada 31 Agustus 1940, diadakan pameran udara (airshow) pertama di Hindia Belanda. Dua tahun kemudian, Jepang menyerang Hindia Belanda. Kemayoran menjadi sasaran serangan pesawat-pesawat Jepang. Beberapa pesawat KNILM diungsikan ke Australia. Saat pendudukan Jepang (1942-1945), pesawat-pesawatnya parkir di Kemayoran. Setelah Jepang menyerah, pesawat-pesawat Sekutu dan Belanda kembali mendarat di Kamayoran.

Menurut Ensiklopedi Jakarta, pada masa perjuangan kemerdekaan, berdirilah Garuda Indonesian Airways, perusahaan penerbangan milik bangsa Indonesia. Dengan adanya Garuda, berbagai pesawat modern pada masa itu hadir di Kemayoran.

Pada periode 1962-1964, tulis Singgih Handoyo dalam Aviapedia: Ensiklopedia Umum Penerbangan, Volume 1pengelolaan bandara dari Djawatan Penerbangan Sipil Indonesia diserahkan kepada BUMN bernama PN Angkasa Pura Kemayoran. Tipe pesawat semakin semarak dengan kehadiran maskapai penerbangan dari dalam dan luar negeri. Pada masa jayanya, TNI AU juga memanfaatkan Kemayoran sebelum Lanud Iswahyudi diperkokoh dan diperpanjang. Pada 1970-an merupakan era pesawat komersial berbadan besar dan berteknologi canggih.

“Sebagai bandara internasional, kesibukan Kemayoran mencapai puncaknya paa 1980-an mencapai lebih dari 100.000 penerbangan per tahun dengan kapasitas penumpang mencapai empat juta orang,” tulis Singgih.

Untuk membagi beban, pemerintah membuka Bandara Halim Perdanakusuma pada 10 Januari 1974 sebagai bandara internasional kedua. Beberapa penerbangan pindah tetapi penerbangan domestik masih beroperasi di Kemayoran.

Menurut Ensiklopedi Jakarta, beberapa pesawat pernah nahas di Kemayoran, seperti pesawat Beechcraft mengalami musibah saat mendarat; Convair 340 mendarat tanpa roda; DC-9 patah badan di landasan; dan DC-3 terbakar; dan yang paling dahsyat kecelakaan Fokker F-27 yang menyebabkan seluruh awaknya meninggal.

Kegiatan Bandara Kemayoran semakin menurun ketika Bandara Soekarno-Hatta selesai dibangun dan diresmikan pada 1 April 1985. Setelah ditutup, di Kemayoran masih sempat digelar International Air Show pada 1986.

sumber : https://historia.id/politik/articles/akhir-bandara-kemayoran-Dr9am

Napak Tilas Sejarah Bandara Kemayoran

Kemayoran saat ini lebih dikenal sebagai nama kecamatan di Jakarta Pusat atau identik dengan Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang selalu digelar setiap tahunnya. dulu daerah Kemayoran terkenal dengan bandara internasionalnya.

Sebelum ada Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma, Bandara Kemayoran menjadi pusat penerbangan di Indonesia. Bahkan menjadi bandara internasional pertama di tanah air.

Selama tahun 1960-1970 nama Bandara Kemayoran cukup terkenal. Jauh sebelum dibangunnya Bandara Soekarno-Hatta. Bandara yang berkode KMO itu lebih dulu terkenal ketimbang bandara Changi kebanggaan Singapura.

Uniknya Bandara Kemayoran sempat menjadi bagian dari serial komik Tintin. Tintin merupakan karya komikus asal Belgia yang bernama Georges Remi. Di dalam komik Tintin yang berjudul “Flight 714” terbitan tahun 1968, menceritakan Tintin dan kawan-kawannya yang mendarat di Bandara Kemayoran saat akan pergi menuju Sydney, Australia.

Sejarah Bandara Kemayoran

Bandara Kemayoran mulai dibangun pada tahun 1934. Setelah enam tahun bandara ini resmi dibuka, tepatnya pada tanggal 8 juli 1940. Namun, tanggal 6 Juli bandara ini sebenarnya sudah mulai beropersi. Pesawat DC-3 milik Hindia Belanda menjadi pesawat udara pertama yang mendarat di Bandara Kemayoran. Pesawat tersebut terbang dari lapangan udara Tjililitan, sekarang bernama Halim Perdanakusuma .

Bandara Kemayoran juga pernah menjadi tempat pameran kedirgantaraan pertama di Indonesia. Pameran tersebut dimulai tepat pada hari ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina pada 31 agustus 1940.

Pada masa orde baru, Bandara Kemayoran menjadi sangat ramai. Pada tahun 1980, frekuensi penerbangan bisa mencapai 100 ribu pesawat setiap tahunnya. Itupun juga sudah dibagi dengan Bandara Halim Perdanakusuma. Setelah itu pada tanggal 1 april 1985, Bandara Halim sudah menjadi bandara internasional kedua di Indonesia.

Karena untuk memenuhi kuota penerbangan yang tinggi, pemerintah Indonesia mempersiapkan bandara yang baru di daerah Cengkareng. Setelah siap untuk digunakan, bandara di Cengkareng resmi menjadi bandara utama di Indonesia. Bandara Cengkareng dibuka pada 1 april 1985 dan menjadi pusat penerbangan di kota Jakarta. Bandara tersebut dinamai Soekarno-Hatta. Setahun sebelum Bandara Soekarno-Hatta mulai di buka, Bandara Kemayoran sudah resmi di tutup dan tidak lagi beroperasi melayani penerbangan.

Alasan dari penutupan Bandara Kemayoran dikarenakan terlalu dekat dengan basis militer Indonesia. Yang berpengaruh pada menyempitnya penerbangan sipil, sehingga dapat mengancam lalu lintas Internasional. Setelah tak dipakai, area bekas Bandara Kemayoran dikelola oleh Badan Pengelola Kompleks Kemayoran (BPKK). Pada tahun 1992, bekerja sama dengan pihak swasta, pemerintah membangun rumah susun di Jalan Dakota yang dulunya sebagai tempat parkir pesawat. Pembangunan tersebut merupakan cikal bakal Kota Baru Bandar Kemayoran.

Bandara Kemayoran Zaman Sekarang

Bandara Kemayoran mempunyai dua landasan pacu yang saling bersilangan. Pertama, landasan pacu utara-selatan (17-35) dengan ukuran 2475 x 45 meter. Yang kedua, landasan pacu barat-timur (08-26) dengan ukuran 1850 x 30 meter. Sekarang kedua landasan tersebut menjadi Jalan Benyamin Syueb dan Jalan HBR Motik.

Pra sarana bandara kemayoran yang kini sudah sulit untuk dilihat adalah tempat parkir dan hangar pesawat. Selain kedua landasan pacu yang sudah beralih fungsi tersebut, menara Air Trafic Control (ATC) dan ruang tunggu penumpang juga masih ada. Hanya saja, kedua bangunan tersebut kondisinya agak kurang terawat.

Menurut beberapa sumber, dulunya menara ATC bekas Bandara Kemayoran merupakan menara ATC pertama di Asia. Bangunan itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah Indonesia. Sedangkan di gedung Terminal A bandara, terdapat tiga relief bertemakan manusia, Sangkuriang, serta flora dan fauna .

Sisa-sisa Bandara Kemayoran memang pantas diabadikan menjadi museum. Di sanalah sejarah penerbangan di Indonesia bisa terlihat. Menjadikan sisa bangunan bandara menjadi museum menjadi pilihan yang ideal.

sumber : https://ublik.id/sejarah-bandara-internasional-kemayoran/

Sejarah Kemayoran

Pada mulanya penduduk Kampung Kemayoran adalah orang Betawi. Kedatangan Belanda ke Jakarta sebagai bangsa penjajah banyak membutuhkan tenaga dari luar untuk diladikan pekerja dalam pembuatan jalan, parit-parit maupun untuk menjadikan milisi (wajib militer) dalam menghadapi Sultan Hasanudin dari Banten dan Sultan Agung dari Mataram.

Selain itu untuk menghadapi musuh-musuhnya pemerintah Belanda mendatangkan orang-orang dari Cina, India, Sumatera dan Indonesia bagian timur. Dengan adanya bangsa-bangsa tersebut terjadilah asimilasi perkawinan diantara mereka.

Kemudian datang orang Indo (campuran Belanda dan Indonesia) untuk tinggal di komplek tentara di jalan Garuda. Setelah perang dunia ke dua banyak bekas tentara Belanda (pensiunan) datang ke Kemayoran untuk tinggal di sana.

Setelah Indonesia merdeka, daerah Kemayoran banyak didatangi orang-orang perantauan dari Jawa Tengah (Yogya, Kebumen, Tegal, Purwokerto, Banyumas), Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, NTT dan NTB. Demikian pula bangsa-bangsa lain seperti Cina, Arab banyak berdatangan di tempat tersebut.

Pada masa pemerintahan Belanda Kemayoran merupakan sebuah Wekmeester yang dipimpin oleh seorang Bek. Baru setelah Indonesia merdeka, Kemayoran menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Sawah Besar, Kawedanan Penjaringan, Walikota Jakarta Raya.

Tetapi pada tahun 1963 – 1968 Kemayoran dimasukan kedalam wilayah Kecamatan Senen, Walikota Jakarta Raya. Setelah tahun 1968 Kemayoran dijadikan wilayah Kecamatan dengan meliputi lima kelurahan yaitu Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Kebon Kosong, Serdang dan Harapan Mulia.Pada masa pemerintahan Belanda daerah Kemayoran tidak lepas dari kekuasaan mereka.

Di bawah pemerintahan gubernur Jendral Daendels, usaha yang dilaksanakan ialah pembangunan jalan darat yaitu dari Anyer sampai Panarukan. Kebutuhan dana pembangunan jalan tersebut Daendeels dengan cara meniual tanah yang dikuasai kepada orang-orang kaya. Hal semacam itu terjadi pula pada tanah di Kemayoran. Umumnya pembelinya dari kalangan orang-orang kaya atau luan tanah dari golongan Cina, Arab dan Belanda, diantaranya ialah Rusendal, H. Husein Madani (lndo-Belanda), Abdullah dan De Groof.

Kekuasaan tuan tanah itu sama dengan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Mereka berhak mengatur kembali tanah yang sebelumnya mereka adalah budak belian. Setelah perbudakan dihapus, mereka menjadi petani milik tuan tanah dan umumnya tuan tanah akan menentukan besarnya pajak yang harus mereka bayar.Adapun pajak yang ditarik pada waktu itu ada dua macam yaitu pajak tempat tinggal dan pajak penggarap sawah hasil bumi.

Untuk pajak tempat tinggal ditarik tiap bulan sebesar satu picis. Sedangkan untuk penghasil dibagitiga dengan perincian petani penggarap 25%, tuan tanah 45% dan mandor 30%. Disamping penggarap mengeluarkan 25%, mereka masih diharuskan memberikan sebagian hasilnya pada mandor. Apabila tanah itu ditanami kacang tanah, buah-buahan dan sebagainya, mereka diwajibkan membayar pajak tanah pada tuan tanah yang besarnya kurang lebih 4% dari hasil panen tersebut. Adanya pendatang dengan mempunyai latar belakang kebudayaan dan pendidikan yang berbeda membawa pengaruh positif terhadap kehidupan penduduk Kemayoran.

Dahulu mereka memang memandang para pendatang secara negatif, karena mereka menganggap bahwa para pendatang itu berasal dari kalangan orang-orang susah. Kesan semacam itu kemudian berubah setelah mereka mulai mengadakan komunikasi. Dengan adanya komunikasi terus-menerus mendorong penduduk Kemayoran mau bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya, karena banyak diantaranya dalam mereka bekerja tidak lagi hanya mengandalkan dari satu jenis pekerjaan seperti dahulu.

Karena Kemayoran sekarang daerahnya sudah berubah menjadi tempat pemukiman, banyak diantara mereka yang mengalihkan mata pencahariannya yakni dari petani ke usaha-usaha lain seperti pedagang, buruh pabrik, bengkel dan lain-lain.

Dengan dibangunnya Lapangan Terbang Kemayoran sekitar tahun 1935, penduduk membuka usaha sebagai pedagang keliling, nasi, perbengkelan, berjual alat-alat rumah tangga dan lain-lain.

Sudah menjadi tradisi bagi tuan-tuan tanah di daerah kemayoran, pada tiap-tiap tahun baru Cina, mereka mengadakan suatu pesta perayaan dengan acara pertunjukan sebagai hiburan bagi rakyat. Acara pertunjukan tersebut memperkenalkan kesenian rakyat yang sangat digemari pada saat itu misalnya kesenian Keroncong, Wayang Kulit, Gambang Kromong, Der Muruk dan lain-lain.

Referensi :
– Perpustakaan Nasional
– Kampung Tua di Jakarta, Dinas Museum dan Sejarah, 1993
– Diskominfomas, Bang Jay Salim di Gue Anak Kemayoran

– https://anakbetawiblog.wordpress.com/2016/08/14/sejarah-kemayoran/

Catatan Sejarah yang Tercecer dari Kampung Tua Kemayoran

Setiap orang sebagai bagian dari anggota masyarakat tentu akan menetap di suatu wilayah. Ia bisa menetap di Jakarta maupun wilayah Indonesia lainnya. Namun seringkali kita bertanya soal asal usul nama wilayah di mana kita diam dan menetap itu. Padahal dipastikan munculnya suatu nama wilayah memiliki sejarah dan catatannya sendiri. Seperti halnya di Jakarta ini, termasuk Kemayoran. Barangkali nama Kemayoran sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jakarta khususnya dan di Indonesia umumnya. Masyarakat tanah air tentu mengenal nama tersebut karena sempat menjadi pintu gerbang masuk dan keluarnya semua kalangan untuk melakukan perjalanan domestik maupun mancanegara. Apalagi bagi kalangan pemimpin dunia ketika itu, Kemayoran seolah akrab di telinga mereka sejak Konferensi Asia Afrika (KAA) I tahun 1955 di Bandung dulu. Di bagian wilayah ini sejak sebelum kemerdekaan, sekitar tahun 1935 (1940) hingga 1985 terdapat Bandar udara tersibuk di Indonesia. Tak heran, pemimpin dunia manapun pasti tahu nama ini. Kemayoran bisa dikenal salah satunya dari keberadaan lapangan udara itu sebelum akhirnya dipindahkan ke Cengkareng (Bandar Udara Soekarno-Hatta). Namun demikian Kemayoran juga menyimpan catatan sejarahnya sendiri. Kemayoran tempo dulu merupakan satu kampung besar demikian luas dan kabarnya sebagian dari tanahnya itu dikuasai oleh Isaac de Saint Martin, seorang serdadu berkebangsaan Perancis, yang lahir pada 1629. Pendek kata, oleh alasan tertentu Isaac yang berpangkat Mayor tatkala peperangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur masa VOC dulu hengkang, dan akhirnya menetap di wilayah ini. Dari beberapa literature, ada yang menyebut munculnya nama Kemayoran oleh sebab pangkat Mayor yang disandang Isaac kerap digunakan masyarakat Batavia (Betawi) untuk memanggil namanya, Tuan Mayor. Tetapi, dalam dokumen Plakaatboek (Van der Chijs XIV; 536), serta suatu iklan pada Java Government Gazette tertanggal 24 Februari 1816, wilayah ini biasa disebut Mayoran. Bahkan ada cerita munculnya nama Kemayoran juga berasal dari nama pangkat seperti tersebut di atas. Akan tetapi pangkat Mayor ini hanya diberikan kepada orang Tionghoa atau Belanda dari pemerintah Belanda sebagai pangkat kehormatan untuk mengepalai kelompok atau golongannya, sekaligus bertugas menarik pajak pribumi. Dalam konteks interaksi inilah kemudian masyarakat pribumi betawi acapkali menyebut nama Mayor untuk petugas penarik pajak itu. Karenanya asal usul nama ini boleh jadi masih menimbulkan tafsir bagi kalangan pemerhati sejarah. Kendati nama tersebut tidak disebutkan secara pasti kapan sesungguhnya nama Kemayoran itu muncul. Apalagi bersamaan dengan datangnya Inggris, lewat Thomas Stamford Raffles, di beberapa kota di Batavia dibentuk suatu tatanan pemerintahan hirarkis. Kampung tua Kemayoran pun tak luput dengan model pemerintahan ala Raffles ini. Ketika itu Gubernur Jenderal asal Inggris ini memberikan hirarki kepemimpinan dalam tatanan masyarakat di wilayah ini atau yang disebut dengan Wijkmeester (Lurah). Wijk atau Lurah dalam perkembangannya kemudian diplesetkan menjadi Bek pada masyarakat Betawi. Bek bisa diartikan pula oleh masyarakat betawi sebagai orang yang berkuasa dan dihormati di suatu wilayah. Lepas dari asal usul nama itu, kampung Kemayoran yang masa tempo dulu dihuni penduduk asli betawi, kini telah dihuni oleh berbagai etnis. Konon keragaman etnis ini muncul pertama kali, tatkala terjadi peperangan VOC dalam menghadapi Sultan Hasanudin dari Banten dan Sultan Agung, Mataram sekitar tahun 1628-an. Dalam peperangan itu, VOC mendatangkan orang-orang dari Cina, India, Sumatera dan Indonesia Timur. Selain juga kedatangan mereka adalah untuk dijadikan pekerja dalam pembuatan jalan, parit maupun milisi militernya. Dari situlah kemudian muncul asimilasi perkawinan yang menumbuhkembangkan etnisitas, baik antar masyarakat pendatang maupun dengan masyarakat betawi Kemayoran. Selanjutnya, pertumbuhan etnis itu juga kian berkembang di masa penjajahan Belanda ketika orang-orang Indo (campuran Belanda dan Indonesia) menetap di tangsi tentara di sekitar jalan Garuda. Kehadiran mereka juga menambah etnisitas yang mendiami kawasan Kemayoran ini. Malah usai perang dunia kedua pun (perang kemerdekaan) banyak eks tentara Belanda yang pensiun menetap di sini. Bukan hanya itu setelah Indonesia merdeka, kawasan Kemayoran kemudian didatangi masyarakat perantau yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, NTT dan NTB., serta daerah lainnya. Bahkan bangsa lain, semacam Cina dan Arab juga tak mau ketinggalan untuk tinggal di wilayah ini. Dari perspektif sejarah itu, yang di mulai dari masa Batavia hingga Jayakarta kemudian, serta membaurnya etnis yang ada menjadikan dinamika sosial, ekonomi dan kebudayaan kampung tua Kemayoran cepat tersiar. Tersebutlah misalnya di masa Daendels berkuasa, tuan tanah kaya raya ada di Kemayoran, seperti misalnya Rusendal, H Husein Madani, Abdullah dan De Groof. Mereka adalah orang kaya yang membeli tanah penguaasa Belanda di wilayah ini untuk membiayai pembangunan jalan darat Anyer-Panarukan. Mereka tuan tanah itu kebanyakan berasal dari golongan Arab, Cina, maupun Belanda sendiri. Bahkan di sekitar masa itu pula, muncul tokoh-tokoh Jago Kemayoran, seperti misalnya Murtado dan Djiong (Macan Kemayoran?). Di luar itu dalam perkembangannya muncul juga kesenian yang cukup dikenal luas ketika itu, yakni Keroncong Kemayoran, selain juga Gambang Kromong, Wayang Kulit dan Der Muruk. Malah kesenian semacam ini merupakan favorit masyarakat betawi Kemayoran yang amat digemari. Seiring waktu berjalan, kampung tua Kemayoran yang semula di pimpin oleh seorang lurah (wijkmeester), lalu di masa sesudah kemerdekaan menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Sawah Besar, Kawedanaan Penjaringan, Walikota Jakarta Raya. Malah pada tahun 1963-1968 Kemayoran dimasukan ke dalam wilayah Kecamatan Senen, Walikota Jakarta Raya. Selanjutnya di tahun 1968 itu juga Kemayoran dijadikan wilayah Kecamatan yang meliputi lima keluarahan, yakni Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Kebon Kosong, Serdang dan Harapan Mulia. Namun kini di tahun 2012 ini Kemayoran tumbuh dengan pesat. Kecamatan Kemayoran terdiri dari 8 kelurahan, 77 RW dan 1031 RT, sedangkan Kelurahan yang tercatat di Kemayoran ini yakni Harapan Mulya, Cempaka Baru, Sumur Batu, Serdang, Utan Panjang, Kebon Kosong, Kemayoran, dan Gunung Sahari Selatan. Sebagaimana diketahui Kelurahan terluas di wilayah ini ada di kelurahan Gunung Sahari Selatan, dengan luas wilayah mencapai 1,53 Km2 atau 21,11% dari luas wilayah Kecamatan Kemayoran (7,25 km2). Sementara jumlah penduduk menurut data Kecamatan Kemayoran tahun 2010 lalu, sekitar 187.491 orang.Sayangnya sisa kampung tua Kemayoran yang disebut dalam berbagai literature itu, baik typikal rumah tinggal maupun kesenian yang pernah jaya dulu, sulit dijumpai sekarang ini. Padahal di kampung ini sempat muncul tokoh seni, semisal Benyamin Sueb dan lainnya. Kecuali itu, kampung tua Kemayoran sekarang telah tumbuh demikian pesat dengan beragam persoalannya, mulai kepadatan penduduk, pemukiman yang rapat, pedagang kaki lima di titik jalan tertentu hingga aliran kali sentiong yang kerap dipenuhi sampah setiap harinya. Namun begitu toh Kemayoram masih tetap dikenal masyarakat domestik dan mancanegara karena Pekan Raya Jakarta (PRJ) diselenggarakan di areal bekas bandara Kemayoran seluas 44 hektar sejak 1992 lalu.

sumber: https://www.kompasiana.com/www.kompasianan.blogspot.com/551a274aa33311aa1fb65936/catatan-sejarah-yang-tercecer-dari-kampung-tua-kemayoran