Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Teori Ketidakpastian

Mungkin tiga tahun lalu, atau empat tahun. Entahlah, saya sendiri sudah tidak ingat. Yang jelas, lelaki itu datang ke rumah dan menceritakan penyakit kronis yang dideritanya dengan sangat lemah.

Ia adalah teman kecil saya, dari ceritanya tampak benar bahwa ia sudah pasrah kalau memang harus menghadap Allah dalam hitungan minggu atau bulan. Pengobatan medis sudah ditempuh namun tidak menunjukkan perbaikan.

Pengobatan alternatif sudah dilakoni pula, namun tetap saja penyakit itu semakin menggerogoti tubuhnya. Masa depannya sudah cukup pasti baginya, bahwa ia akan mengalah juga kepada penyakitnya kelak.

Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya? Ternyata, sampai hari ini saya masih sering berpapasan dengannya di jalan. Tubuhnya cukup sehat, dan masih mampu membawa motor sendiri. Begitulah masa depan, tidak ada yang pasti.

Apa yang akan terjadi pada kita masing-masing di masa depan benar-benar sesuatu yang tidak pasti. Menjadi sehat atau sakit, berubah kaya atau miskin, bahkan iman di dalam hati ini tak ada yang tahu bagaimana kelak.

Anehnya, banyak orang justru menganggap masa depannya sudah pasti, sehingga mereka cemas berlebihan. Tidakkah mengherankan jika kita mencemaskan apa yang tidak kita ketahui dengan pasti?

Dahulu ada seorang perempuan yang mengaku menjadi nabi hanya beberapa bulan setelah wafatnya Rasulullah. Ia memiliki ribuan pengikut, hingga cukup berani menantang kaum muslimin di Madinah. Namanya Sajjah At-Tamimiyah.

Namun sang perempuan itu menyusun strategi yang lebih matang, ia menikah dengan Musailamah Al-Kazzab. Maka jadilah seorang nabi palsu perempuan yang bersuamikan seorang nabi palsu lelaki. Bayangkan bagaimana kesesatan yang sangat besar itu.

Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan muslim untuk menghentikan kezaliman mereka, agar jangan sampai bertambah banyak umat muslim yang murtad. Peperangan sengit pun terjadi. Musailamah Al-Kazzab mati terbunuh.

Sang perempuan itu berhasil melarikan diri ke Basrah, kemudian ia bertaubat dan menjadi muslimah yang baik hingga wafatnya. Jenazahnya dishalati oleh gubernur Basrah yang memimpin saat itu.

Bagaimana mungkin masa depan seorang perempuan yang menjadi nabi palsu dan menyesatkan ribuan orang itu bisa berakhir dengan amat baik? Sekali lagi, karena masa depan tidak ada yang pasti.

Saudaraku, cobaan apapun yang sedang kita alami saat ini, sama sekali tidak menggambarkan masa depan bagaimana. Jangan berlebihan dalam memikirkan masa depan, seolah-olah kita sudah tahu pasti apa yang akan terjadi.

Sebagai seorang muslim, tugas kita adalah berprasangka baik dan terus menerus berdoa kepada Allah. Karena ketidakpastian masa depan kita itu berada dalam kekuasaan Allah. Maka serahkan sepenuhnya kepada-Nya.