Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Tag: bersama

Penjual Pemula

Sekiranya kita pemula ada baiknya memilih produk dengan ciri-ciri berikut:

High margin. Bukannya kita serakah. Tapi dengan adanya margin yang lumayan, kita bisa berbagi keuntungan dengan reseller dan agent. Kalau margin mepet, gimana mau bagi-bagi?

Easy to keep and deliver. Mudah disimpan, mudah dikirim. Jangan sampai nyita space ketika disimpan. Jangan sampai terbebani ongkir ketika dikirim. Bukan apa-apa, sebagai pemula, biasanya kita belum punya gudang dan armada.

Repeat order. Keberlangsungan sebuah bisnis sangat ditentukan oleh repeat order. So, pilih produk yang tinggi repeat ordernya. Setiap minggu atau setiap bulan, konsumen beli terus. Jangan sampai hari-hari kita cari-cari konsumen baru terus. Ini sangat melelahkan dan costly.

Mentor. Seberapa besar peran seorang pembimbing (mentor)? Sangat besar pastinya. Karena dia lebih ahli dan lebih pengalaman daripada kita, sehingga dia bisa bantu mengarahkan strategi-strategi bisnis kita.

Endorsement. Kita mungkin tidak peduli soal artis dan tokoh-tokoh terkenal. Tapi konsumen awam biasanya peduli. Ada baiknya produk kita di-endorse oleh artis dan tokoh-tokoh terkenal sehingga lebih mudah untuk dijual dan berpotensi untuk viral.

Satisfying quality. Mutu yang memuaskan ini adalah keharusan. Saran saya, mutunya nilai 9. Kenapa? Karena ini akan menghemat biaya promosi, berhubung konsumen yang sukarela memberikan testimoni dan posting sendiri di mana-mana.

Nah, ini semua dirangkum dan diringkas oleh Wendi Abdillah (ahli hypno-selling) jadi HERMES:
– High margin
– Easy to keep and deliver
– Repeat order
– Mentor
– Endorsement
– Satisfying quality

Marketing yusuf

 

“قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّمْ فَذَرُوهُ فِي سُنبُلِهِ إِلاَّ قَلِيلاً مِّمَّا تَأْكُلُونَ ثُمَّ يَأْتِي مِن بَعْدِ ذَلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلاَّ قَلِيلاً مِّمَّا تُحْصِنُونَ ثُمَّ يَأْتِي مِن بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ ” يوسف 47- 49.

Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.
Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.
Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).”

Ayat ini bicara banyak hal. Produksi, konsumsi, saving, investasi, pertukaran, manajemen logistik, bahkan marketing, terangkum oleh ayat-ayat itu.

Secara eksplisit ada pesan untuk produksi gandum selama tujuh tahun. Proses produksi dilakukan seperti biasa, tak ada intensifikasi atau ekstensifikasi. Padahal, produksi satu tahun akan digunakan untuk konsumsi dua tahun (7 tahun untuk 14 tahun).

Kemudian dilakukan proses takhziin (penyimpanan dan penggudangan). Tersurat pada ayat ini manfaat formal dalam marketing yang terjadi dalam aktifitas produksi.

Secara implisit tersirat makna utilitas waktu (manfa’ah zamaniyah) yang terjadi dalam penyimpanan karena mereka akan mengkonsumsi hasil panen selama beberapa tahun ke depan.

Selanjutnya, surat Yusuf ayat 88 menyebutkan:

“فَلَمَّا دَخَلُواْ عَلَيْهِ قَالُواْ يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُّزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ”.

Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, “Wahai Al-Aziz! Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka penuhilah jatah (gandum) untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang yang bersedekah.”

Tersurat pada ayat ini bahwa pengalihan kepemilikan barang dilakukan dengan cara barter, atau dengan standar harga tertentu.
Dan secara implisit menyiratkan manfaat kepemilikan. Ayat ini juga menyebutkan prinsip-prinsip moral dan sosial dalam transaksi jual beli. Dan secara khusus menyatakan pentingnya konsideran unsur kemanusiaan dalam mengambil keputusan untuk memberikan memberikan layanan terbaik.

“Marketing itu tidak berinteraksi dengan manusia sebagai konsumen, tapi dengan manusia yang memiliki ruh, hati, dan akal” (Kotler).

Wallahu a’lam bisshawab

http://tazkiyatuna.com

Pondasi pendampingan bisnis

Tidak perlu semuanya minta Saya jadi komisaris perusahaannya. Saya waktunya terbatas. Kapasitasnya pun terbatas. Diluar sana, banyak yang hebat-hebat ilmunya. Dan mungkin lebih pas menamani direksi Anda mengeksekusi bisnis.

Tentang pola pendampingan Saya di D’ninis Bakery Kota Wisata Cibubur, konsep dasarnya akan Saya share terbuka, silakan saja diterapkan di bisnis nya masing-masing.

Berikut pola pendekatan yang Saya terapkan.

Pada langkah pertama, Saya membangun kesepakatan dengan owner terlebih dahulu. Apakah sang pemilik siap bertumbuh atau tidak? Apakah benar-benar serius untuk membangun bisnis melebihi kepentingan pribadinya? Ini penting bagi Saya. Jika tidak, kita tidak akan kemana-mana.

Pada langkah kedua, Saya meminta organisasinya melakukan audit terbuka pada kondisi keuangannya. Hal ini sering Saya ajarkan di program Pelatihan Financial Literacy yang sudah saya sederhanakan. Bahkan lengkap Saya ajarkan di http://melekfinansial.co

Audit terbuka ini berfungsi sebagai medical check up perusahaan. Kondisi perusahaan harus benar-bemar diukur secara kuantitatif melalui angka-angka yang lahir dari kondisi real di lapangan. Dan laporan keuangan inilah yang benar-benar menjadi ukuran sebenarnya dari kondisi bisnis.

Langkah yang ketiga adalah membangun kesadaran operasional harian. Di D’ninis Bakery, Saya memaksa para direksi untuk mengikuti detak operasional harian. Angka-angka penjualan yang tercipta setiap hari, angka pembelian, angka biaya, dan seterusnya.

Harus dirasakan setiap hari.
Harus ditatap setiap hari.
Harus diikuti setiap hari.

Cukuplah seorang pelaksana bisnis merasakan detak bisnis harian, untuk kemudian menemukan pola, cara, pendekatan, dan banyak lagi temuan yang paling pas untuk bisnisnya.

Disini sebenarnya kekuatan sederhana yang bisa Anda terapkan pada bisnis Anda masing-masing.

Ikuti gerak angka bisnis Anda dalam skala harian. Secara tidak langsung, Anda akan sadar, apakah penjualan Anda sudah layak atau tidak. Lalu secara tidak langsung, Anda akan menyadari biaya-biaya yang sebenarnya menggembosi bisnis Anda.

Intinya, angka-angka yang Anda lihat akan MENUNTUN Anda ke ide strategi yang harus dieksekusi.

Tinggal disiplin.
Tinggal dilaksanakan.
Tinggal dipakai.

Begitu ya….

Saya senang nulis bisnis, Saya senang ngajarin hal-hal sederhana yang mungkin bermanfaat untuk sahabat pengusaha.

By Rendy Saputra

CROSSING THE CHASM

Ilmu ini Saya dapatkan dari mas Indrawan Nugroho. Lalu kemudian Saya mendalami lebih dalam di beberapa literatur yang Saya baca.

Crossing The Chasm adalah sebuah Buku yang ditulis oleh Geoffrey Moore, seorang ahli Organisasi dari Amerika yang membahas tentang bagaimana membangun strategi marketing yang siap menggilas kompetitor.

Moore sebenarnya terinspirasi dari “Technology Adoption Life Cycle” yang merupakan hasil riset Beal dan Bohlen pada 1957. Pada 1994, Richard J Hernnstein seorang Psikolog dan Charles Murray seorang Poltical Scientist menyebutnya dengan “Bell Curve”.

Adoption Life Cycle ini sebenernya sangat sederhana, ini tentang bagaimana sebuah produk diadopsi oleh pasar.

Geoffrey Moore menjelaskan dan membagi market menjadi 5 bagian besar, berdasar atas kemampuan adopsinya atas sebuah produk atau inovasi.

Jika kita sebagai pebisnis mendeliver sebuah produk yang baru, maka yang pertama merespon adalah Kaum Innovators. Setelah kaum innovators menyerap, kaum early adaptors langsung menyerap cepat. Kedua kaum ini adalah dua lapis besar segmen yang siap memgadopsi produk Anda di awal-awal.

Berita buruknya, kedua lapisan ini hanya berjumlah 16% dari seluruh market share, innovators 2,5% dan early adopters 13,5%. Jika kita hanya berharap dibeli oleh dua lapis kaum ini, maka kita tidak akan pernah bisa meraih seluruh market share.

Lalu dimanakah populasi besar market berada? Mereka ada di bagian kaum Early Majority dan Late Majority. Kedua lapisan ini memenuhi 68% market share. Jadi, jika Anda ingin masuk ke pasar yang sangat luas, Anda harus mampu menerobos Early Majority dan Late Majority.

Disinilah teori Crossing The Chasm dibutuhkan. Kita harus berfikir tentang bagaimana agar produk yang semula sudah diserap Innovators dan Early Adopters ini kemudian bisa MENYEBERANGI JURANG menuju lapis Majority.

Secara sederhana, kuncinya hanya 1 : bagaimana membuat produk Anda mampu diterima oleh Innovators dan Early Adopters, sehingga mereka akan menjadi topangan produk Anda menuju kaum Majority.

Mengapa? Karena kaum majority ini selalu bertanya kepada kaum Innovators dan Early Adopters, apakah produk Anda bagus atau tidak. Kalo bagus, product Anda bisa Crossing The Chasm. Kalo busuk, product Anda akan terjerembab di jurang dalam.

*

Untuk lebih memahami bagian demi bagian dari Adoption Life Cycle, ijinkan Saya untuk kemudian membahas lapisan ini bagian demi bagian.

1. Kaum Innovators
Kaum ini memiliki tiga ciri besar : mereka lebih sejahtera, lebih terdidik dan mereka suka akan resiko.

Karena lebih sejahtera, mereka memiliki daya beli yang tinggi. Karena sejahtera ini pula lah, mereka gak terlalu banyak pertimbangan untuk memutuskan membeli. Kalo ada yang baru ya beli, kan horang kayah.

Hal lain yang membuat kaum innovators ini sangat cepat membeli produk baru adalah… karena mereka akrab dengan resiko. Kalo ada produk baru, mereka langsung beli, mau bagus atau nggak, mereka yang ingin mencoba untuk pertama kali.

Tapi sayangnya, kaum ini hanya 2,5%. Ini berita baik juga untuk Anda, ada 2,5% populasi yang siap gelap mata membeli produk Anda.

2. Kaum Early Adopters
Kaum ini relatif anak-anak muda. Mereka pemimpin komunitas, namun kesejahteraannya dibawah kaum innovators.

Anak-anak muda ini sangat senang untuk mengadopsi hal baru. Selain itu, mereka relatif menjadi acuan bagi komunitas mereka. Ini yang membuat mereka selalu bergegas menyambut hal baru.

3. Kaum Early Majority
Mereka adalah sosok konservatif namun terbuka dengan ide-ide baru. Kaum ini juga aktif bersosialisasi di komunitas yang ada.

Karakter sifat dari kaum inilah membuat early majority relatif bersegera menyambut dorongan dari kaum early adopters. Tapi intinya begini : kaum di early majority harus memberi kesaksian yang positif, baru kemudian kaum Early Majority mau bergerak menyerap.

4. Kaum Late Majority.
Kaum ini adalah kaum yang relatif tua, tidak teredukasi dan sedikit sekali berinteraksi dengan komunitas.

Jika kaum early majority sudah menyerap sebuah produk dan happy, barulah kaum late majority mau menyerap produk tersebut.

Early majority dan late majority menempati masing-masing 34% market share. Berarti total market share pada dua lapisan ini berjumlah 68%.

5. Terakhir adalah Kaum Laggards
Ini kaum tua, sangat-sangat konservatif, relatif kurang sejahtera dan tidak terdidik.

Populasi laggards ini 16%. Di populasi ini, walau hari ini sudah nenggunakan WA, mereka masih memakai SMS.

*

Menuju 10 juta penonton, adoption life cycle ini menuntun Saya untuk berfikir keras. Bagaimana film ini bisa ditonton lebih banyak innovators dan early adopters, dan bagaimana film Bunda bisa crossing ke kaum majority.

Untuk 10 juta penonton, PH Inspira harus berfikir tentang bagaimana agar film ini bisa ditonton 1 juta penonton pada 3 hari pertama.

Lahirlah Program Pre Sale tiket dengan melibatkan banyak reseller. Semua program inspira ini, lahir dari pendalaman riset Moore dan Rogers. Memadukan teori market yang dibawakan oleh ahli marketing, ahli psikologi, hingga sosok ahli politik.

Semoga terjawab semua teka teki program kami.

Rendy Saputra

Menjual Rumah dan Tanah

Dari Said bin Huraits -radliyallahu anhu- berkata, Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

( مَنْ بَاعَ دَارًا أَوْ عَقَارًا فَلَمْ يَجْعَلْ ثَمَنَهَا فِي مِثْلِهِ كَانَ قَمِنًا أَنْ لَا يُبَارَكَ لَهُ فِيهِ )

“Barang siapa menjual rumah atau tanah, kemudian tidak menggunakan hasil penjualannya itu untuk membeli yang sejenisnya, maka dia tak layak mendapatkan berkah padanya” (HR. Ahmad, hadits hasan).

Aslinya, bumi itu dicipta oleh Allah -taala, diberkahi dan ditentukan padanya makanan-makanan bagi penghuninya (QS. Fushilat: 10). Karena itulah, menurut Abu Jafar al Thahawi -rahimahullah, orang yang menjual tanah berarti menjual apa yang diberkahi oleh Allah. Bila hasil penjualan itu dirupakan selain tanah, maka berarti mengganti sesuatu yang diberkahi dengan yang tidak diberkahi.

Menurut Abdullah Ibrahim al Lahiidan, Guru Besar Fakultas Dakwah Jamiah al Imam, bahwa fiqih merupakan bekal bagi muslim dalam berinteraksi dengan harta dan bisnis. Fiqih yang dimaksud bukan hanya fiqih hukum yang berbicara tentang halal-haram, tapi juga fiqih tentang sunnatullah dalam untung-rugi, dan fiqih tentang pengalaman masa lalu.

Hadits yang diriwayatkan oleh Said bin Huraits di atas bicara tentang fiqih-fiqih itu. Al Qursyi -rahimahullah- menulis dalam Al Kharaj bahwa Usman bin Madhun -radliyallahu anhu- berkata, “Aku dapati apa yang diucapkan oleh Ahli Kitab bahwa dalam Taurat tertulis ‘barang siapa menjual tanah dan tidak menjadikan hasil penjualan itu untuk membeli yang semisalnya, maka dia tak diberkahi.

Fiqih sunnatullah dalam untung-rugi, dijelaskan oleh Mula Ali al Qari -rahimahullah, yang berpendapat bahwa tidak dianjurkan menjual tanah atau rumah yang kemudian hasil penjualannya digunakan untuk membeli barang bergerak. Karena barang tak bergerak (tanah, rumah) memiliki banyak manfaat dan kecil risiko, kecil kemungkinan dicuri atau dirampas orang, berbeda dengan barang bergerak. Karenanya, lebih baik bila (tanah, rumah) tak dijual. Seandainya dijual lebih baik hasil penjualannya dirupakan yang semisalnya.

Adapun hukum yang dikandung, bahwa hadits ini tidak menunjukkan haramnya menjual tanah dan rumah, tapi berisi targhib (motivasi, dorongan) untuk mengelola tanah dan menjadikannya produktif. Hukum menjual tanah atau rumah ini berbeda-beda menurut situasi dan kondisi yang melatarinya.

Bagi yang memiliki tanah lebih atau rumah lebih dari yang dibutuhkan untuk diri dan keluarganya, tak mengapa menjualnya, demikian pula bila hasil penjualan itu digunakan untuk membeli yang sejenis.

Tetapi, bila seseorang sangat membutuhkan rumah atau tanah, kemudian ia menjual satu-satunya rumah yang ia butuhkan, tapi tidak menggunakan hasil penjualan itu untuk membeli yang sejenis, maka tak diberkahi.

Dan bila ia menjualnya untuk melunasi tanggungan hutangnya, maka yang demikian dibolehkan dan tidak termasuk dalam pengertian hadits di atas.

Dalam shahih Al Bukhari diriwayatkan bahwa Zubair bin Awwam -radliyallahu anhu- memiliki tanggungan hutang yang besar, disamping properti yang dimilikinya juga banyak. Saat beliau wafat, sebagian rumah dan tanahnya dijual untuk melunasi hutang dan tanggungannya.
Wallahu a`lam bisshawab

Ustadz Ahmad Djalaluddin
http://tazkiyatuna.com

Siapa Yang Mensholati Saya?

Hari Senin, 29 Juli 2019, usai memberikan training untuk para pimpinan Pancaran Group, saya mendapat kabar teman kuliah saya di IPB, Tina Paramita meninggal dunia. Saya langsung meluncur ke rumah duka di Bojong Kulur Bogor.

Pukul 19.07 saya tiba di rumah duka, namun saya sudah terlambat. Jenazah sudah dibawa ke Bandung untuk dimakamkan di sana.

Mungkin Anda tidak mengenal Tina Paramita, tetapi perlu Anda tahu bahwa yang mensholatkan sahabat saya ini adalah para tokoh kebaikan, salah satunya adalah Prof. Didin Hafiduddin, yang rumahnya 2 jam perjalanan ke rumah duka.

Selain Tina Paramita wanita solehah, suami beliau Dudi Iskandar juga orang yang soleh dan tawadhu. Meski jabatan Kang Dudi adalah salah satu direktur di BPPT, ia tetap hidup bersahaja.

Tina, disholatkan di dua tempat, Bogor dan Bandung. Selalu ramai orang yang ikut mensholatkan. Itulah salah satu nikmat orang yang meninggal.

Di dalam perjalanan pulang ke rumah, saya bertanya pada diri sendiri “Andai saya meninggal nanti, siapa yang akan mensholati saya? Siapa yang akan berada disisi saya, membimbing mengucapkan kalimat “Laa illaha illallahu?”

Siapakah yang akan mengantarkan saya ke kuburan? Siapakah yang mendoakan saya agar terhindar dari azab kubur? Siapakah yang menguatkan orang-orang yang saya tinggalkan?.

Makhluk hidup itu berkumpul dengan yang memiliki sifat dan karakter yang sama. Kambing berkumpul dengan kambing, ayam berkumpul dengan ayam. Serigala berkumpul dengan serigala, buaya berkumpul dengan buaya.

Orang baik berkumpul dengan orang baik. Maka saat saya kelak saat meninggal ingin disholati oleh banyak orang baik, saya perlu banyak berbuat baik dan bergaul serta bersahabat dengan orang baik. Semoga saya bisa.

Ya Allah, siapakah kelak yang mensholati saya? Mengkafani saya? Memandikan saya? Mendoakan saya? Dan menemani saya diujung kematian saya? Semoga banyak orang baik yang dengan tulus melakukannya untuk saya.

Terima kasih Tina Paramita atas kebaikan dan keteladanmu selama ini. Saya menjadi saksi bahwa kamu orang baik dan sangat layak berada di tempat yang baik, surga terbaik.

Salam SuksesMulia

Ngobrol Yang Menentramkan Hati

Beberapa waktu yang lalu saya mengalami kejenuhan yang luar biasa, ditambah gelisah dan munculnya emosi-emosi negatif yang sangat menguras energi. Kesibukan dan rutinitas yang bertambah membuat hati semakin gundah.

Saya pun menyadari, bila hal ini berlangsung lama maka bisa merusak banyak hal, ibarat mesin sudah sangat panas, bila tidak didinginkan bisa terbakar.

Solusi yang murah, mudah dan jitu untuk hal tersebut di atas bagi saya adalah NGOBROL.

Pertama, saya ngobrol pada diri sendiri. “Jamil, kehidupan seperti inikah yang kamu harapkan? Adakah cara lain yang bisa kamu lakukan untuk meningkatkan kualitas hidupmu? Bagaimana kamu bisa meningkatkan kualitas komunikasimu dengan istri dan anakmu? Apa hal-hal yang patut kamu syukuri dalam hidupmu? Dan obrolan panjang pun berlangsung lama meski hanya imajiner.

Kedua, saya ngobrol dengan istri. Habisnya tiket pesawat ke Jogja membuat saya memutuskan untuk membawa kendaraan sendiri karena pentingnya acara di Sentolo Jogja. Saya perlu menemui 34 future leader (santri) Tahfizh Leadership yang sedang belajar properti dengan ahlinya

Sepanjang 10 jam perjalanan ke Jogja membuat saya leluasa bisa ngobrol dengan istri saya. Obrolan mendalam dengan istri di lanjutkan di Jakarta. Hati menjadi lapang, gundah gulana entah pergi kemana.

Dan puncak obrolan ternikmat adalah saat saya ngobrol atau mengadu kepada Allah. Saya adukan berbagai permasalahan yang saya hadapi dengan penuh penghayatan, penuh kesungguhan disertai permohonan agar Allah swt menolong, membantu dan membimbing saya.

Ajaib, setelah sering ngobrol dengan Allah swt diberbagai waktu dan tempat yang berbeda ternyata banyak hal yang tuntas dengan sendirinya. Solusinya tanpa diduga, tanpa disangka datang dari berbagai penjuru.

Nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?

Ya, ngobrol dengan diri sendiri, ngobrol dengan istri dan ngobrol dengan yang menguasai hati (Allah swt) itu menentramkan hati dan menghadirkan banyak solusi.

Cobalah, karena hanya yang melakukan yang bisa merasakan.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini

Mau Menjadi Inovatif?

Di era distruptif saat ini ada dua pilihan: inovatif atau mati. Orang yang sudah hidup di atas rata-rata pun perlu semakin inovatif apalagi yang rata-rata dan di bawah rata-rata. Begitu pula perusahaan besar yang tidak inovatif bersiap keluar dari kompetisi atau gulung tikar. Clayton Cristensen, seorang pakar bisnis dari Harvard menyatakan “perusahaan yang sering tersandung dalam era distruptive justeru perusahaan yang sudah mapan. Mereka gagal berinovasi secara cepat.”

Kabar baiknya, kemampuan inovatif ternyata bisa dilatih dan dikembangkan. Menurut penelitian Insead Business School, ada lima keahlian yang perlu dilatih agar seseorang menjadi inovatif. Pertama, associating.Berlatihlah untuk menghubungkan titik-titik yang terpisah menjadi satu ide yang inovatif. Steve Jobs mengatakan “connecting dot” hidup itu menghubungkan satu titik dengan titik lainnya. Sesuatu yang semula terlihat berdiri sendiri namun bisa dipadukan menjadi satu kekuatan yang dahsyat.

Kedua, observing. Biasakan untuk melakukan pengamatan secara mendalam dan intensif terhadap sekitar. Nadiem Makarim mengamati trend teknologi dan kebutuhan masyarakat sekitar menghasilkan aplikasi Go-jek yang sangat fenomenal dan mampu memudahkan persoalan yang dihadapi orang.

Ketiga, experimenting. Berlatihlah untuk terus melakukan uji coba, tidak perlu takut gagal. Bila ternyata belum berhasil coba lagi. Mencoba hal-hal yang baru itu menantang dan mengasyikkan. Uji coba yang gagal itu memberikan pengalaman berharga yang sangat sulit ditemukan dibangku kuliah.

Keempat, questioning. Banyaklah bertanya saat melakukan obeservasi dan uji coba. Orang yang banyak bertanya dan tidak malu bertanya akan lebih kreatif dibandingkan orang yang enggan bertanya. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang powerfull maka hal-hal baru akan banyak bermunculan. Rasa ingin tahu dan kritis terhadap satu hal akan mengasah daya inovasi kita.

Kelima, networking. Bersosialisasilah dengan banyak orang yang beragam latar belakang dan profesinya. Diskusi-diskusi ringan dan non formal akan mengundang ide-ide baru yang semula belum terpikirkan. Jangan menjadi orang yang “kuper” alias kurang pergaulan. Perluas terus jejaring Anda.

Mau semakin inovatif? Coba praktekkan secara kontinyu lima hal tersebut di atas.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership
Founder Akademi Trainer
Inspirator SuksesMulia

Ketika sibuk mencari nafkah

Ketika sibuk mencari nafkah, hindari mengeluh.
Itu hanya mengurangi keberkahan rezeki dan mengundang murka Pemberi Rezeki.
Bayangkan Anda diberi kue oleh seseorang, tapi Anda berkeluh-kesah tiada henti tentang kue tadi.
Tentu saja, si pemberi kue itu sakit hati. Apa mungkin kue Anda ditambahi? Mana mungkin ini terjadi!
Lagi pula, mengeluh juga melemahkan otak dan tubuh. Jadinya gampang sakit. Tak cukup sampai di situ, si pengeluh juga mengusir orang yang baik-baik (karena muak mendengar keluhannya) dan menghimpun orang yang jelek-jelek (si pengeluh lainnya, katanya sih curhat). Parahnya lagi, apa yang Anda keluhkan malah semakin menjadi-jadi. Memburuk.
Ingat, sibuk beraktivitas adalah fitrahnya manusia. Maka dari itu, syukuri perniagaanmu. Syukuri pekerjaanmu. Syukuri kegiatanmu.
Sekiranya Nabi Adam tidak mengambil buah khuldi, apa yang akan terjadi?
Masihkah ia, istrinya, dan seluruh keturunannya tetap menghuni surga? Nggak juga.
Cepat atau lambat, ia akan take off dari surga dan landing di bumi.
Dari berbagai ayat kita mengetahui bahwa Nabi Adam akan berdinas di bumi sebagai khalifah. Sibuk beraktivitas. Sebagai pemimpin. Sebagai pemakmur.
Perhatikan baik-baik.
Sewaktu berdiam di surga, Adam tidak beroleh gelar khalifah.
Namun sewaktu menjalani aktivitas dan rutinitas di bumi, barulah ia beroleh gelar khalifah.
Memang, hidup di bumi itu penuh perjuangan. Yah begitulah fitrah manusia selagi ia masih hidup. Berikhtiar. Berjuang.
Ibaratnya kapal, memang aman dan nyaman saat diam bersandar di dermaga, tapi BUKAN untuk itu kapal dibuat.
Sebuah kapal sejati dirancang untuk membelah ombak bahkan menerjang badai.
Berikhtiar. Berjuang. Right?
Sekali lagi, syukuri perniagaanmu. Syukuri pekerjaanmu. Syukuri kegiatanmu. Kalau boleh, sampaikan tulisan ini kepada tim Anda dan keluarga Anda. Niatkan untuk mengingatkan mereka.
Di Surah Ar-Rahman, kalimat ‘nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan’ diulang sampai 31 kali. Kenapa diulang berkali-kali? Ini seruan kepada manusia untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Janganlah mendustakan. Ini menurut Syaikh Amru Khalid.
Menurut Islamist As-Suyuthi , pengulangan itu untuk memantapkan pemahaman manusia tentang bersyukur.
Wong sudah diulang 31 kali saja, kita masih mengeluh, apalagi kalau nggak diulang? Akhirnya, bersyukurlah. Semoga hidup kita semakin berkah berlimpah.

Filosofi rollercoaster dan bangku taman

Setiap orang pasti diuji dengan musibah. Karena dunia adalah negeri ujian (darul bala), sedangkan akhirat adalah negeri balasan (darul jaza). Bahkan pada satu titik tertentu, kita terkadang tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi musibah tersebut.

Jika apa yang sedang kita hadapi itu sudah demikian kalut, maka ingatlah prinsip rollercoaster berikut ini. Bayangkan ada sebuah taman yang asri dan indah. Di tengah-tengah taman nan elok itu terdapat sebuah bangku bagi mereka yang hendak duduk menikmati hijaunya taman.

Sedangkan di taman itu juga ada wahana rollercoaster yang sangat menegangkan. Apabila kita duduk di atas bangku rollercoaster dapatkah kita menyaksikan keindahan taman? Tentu saja tidak, karena dengan kecepatan laju hingga 360 km/jam yang ada hanya kalut, ngeri, dan menegangkan.

Dalam perumpamaan di atas, rollercoaster adalah masalah yang kita hadapi. Sedangkan taman adalah solusinya. Jika kita terus saja duduk di bangku rollercoaster, (dalam arti terus saja memikirkan masalah), maka tak mungkin kita bisa melihat taman. Artinya, tak mungkin melihat solusi.

Agar solusi bisa kelihatan, maka kita harus duduk di bangku taman, bukan di bangku rollercoaster. Artinya, kita harus tenang, damai, dan yakin sepenuhnya kepada Allah.

Demikianlah, ternyata pertolongan Allah hadir setelah adanya ketenangan (sakinah). Filosofi rollercoaster ini yang diajarkan guru kita, Ustaz Nasrullah, dalam buku beliau Rahasia Magnet Rezeki.

Bahwa ketenangan adalah awal dari pertolongan Allah bersumber dari kisah Rasulullah dan Sahabat Abu Bakar saat bersembunyi di gua Tsur dalam perjalanan hijrah.

Sahabat Abu Bakar begitu kalut dengan situasi itu, khawatir para pengejar akan mengetahui keberadaan mereka. Namun solusi Rasulullah begitu sederhana, yaitu tenangkan hati dan yakin bahwa Allah bersama mereka. Kisah ini diabadikan Al-Quran dalam Surat At-Taubah ayat 40,

إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا

Ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengusirnya sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan sakinah (ketenangan) kepadanya dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.

Pada akhirnya, Rasulullah dan Sahabat Abu Bakar tiba di Madinah dengan selamat. Alangkah besarnya pelajaran yang dapat kita petik dari ayat di atas. Ternyata solusi dari permasalahan kita adalah keluar dari bangku rollercoaster dan duduklah di bangku taman dengan sakinah. Sesederhana itu.

Salam Hijrah.
:alarm_clock: Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!