Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Month: February 2020

Dongeng Kerjaan Samudera

Pada suatu hari, sekawanan udang sedang berenang di kedalaman laut yang luas. Secara kebetulan mereka mendengar pembicaraan dua ekor ikan tuna yang tidak mengetahui kedatangan mereka.

“Teman, tahukah engkau siapa hewan yang paling pandir di seluruh samudera? Dia adalah udang!”

Demi mendengar perkataan tersebut, udang-udang itu segera mengadu kepada Hiu, sang raja samudera. Laporan itu ditindaklanjuti dengan menggelar sebuah persidangan yang menghadirkan para ikan tuna itu dan para udang.

“Sebagai raja samudera, saya putuskan membuat tantangan kepada kalian berdua, untuk membuktikan kebenaran ucapan si tuna!” Hiu mulai memberi keputusan.

“Saya tugaskan kepada kalian berdua untuk berburu mencari sebutir mutiara! Siapa yang mendapatkan benda tersebut paling lambat, berarti dia yang paling pandir!”

Begitu titah sang raja keluar, kedua kelompok tersebut segera berenang dengan cepat berburu mutiara. Para tuna mengambil arah barat dan mereka dengan sigap mencari-cari di antara terumbu karang.

Adapun para udang mengambil arah timur dan melakukan hal yang sama pula mencari-cari di antara rumput-rumput laut. Namun baru mencari lima menit, seekor udang memberi saran,

“Teman-teman, agar kita lebih semangat mencari mutiara, bagaimana kalau kita makan dulu. Kalau badan kita kuat, pasti bisa lebih mudah berenang kesana-kemari!”

“Setuju. Ayo kita makan dulu!”

Mereka pun sepakat dengan alasan tersebut lalu bersama-sama menyiapkan makanan dan menyantapnya dengan lahap. Kini mereka sudah bugar dan segera melangkah mencari mutiara. Baru saja tiga menit, udang yang lain memberi saran lagi.

“Teman-teman, mencari mutiara itu tidak mudah. Kalau nanti kita menghabiskan waktu sampai malam bagaimana? Sebaiknya sekarang kita mencari dulu makan malam kita, jadi setelah mendapat mutiara bisa langsung makan!”

“Ide yang bagus, ayo kita persiapkan makan malam dulu!”

Lagi-lagi kawanan udang itu berputar balik dan sibuk dengan pekerjaan mereka yang tidak ada hubungannya dengan mutiara. Setelah bahan makanan itu dipersiapkan, maka mereka kembali menuju rerumputan laut untuk melanjutkan tugas mereka. Satu menit kemudian udang yang lain lagi menyela.

“Teman-teman, mutiara itu ada berbagai macam ukuran. Ada yang besar, kecil, dan sedang. Kita seharusnya membawa seluruh peralatan kita, karena kita tidak tahu mutiara seperti apa yang kita temukan nanti.”

“Betul sekali. Ayo kita kembali ke rumah lagi untuk mengambil peralatan!”

Tentu saja mereka semua sepakat dengan usul tersebut dan bersama-sama meninggalkan tugas mereka yang memang belum sedikitpun dikerjakan. Setelah semua persiapan lengkap dan mereka sudah berkumpul kembali, seekor udang kembali mengajukan saran.

“Teman-teman, sebelum mencari mutiara sebaiknya kita musyawarah dulu membentuk panitia. Jadi gerakan kita bisa disesuaikan dengan tugas masing-masing dan hasilnya pasti lebih cepat!”

“Tepat sekali! Ayo kita rundingkan untuk membentuk kepanitiaan!”

Demikianlah seterusnya, di sisi lain sang raja samudera sudah jenuh menunggu di ruang persidangan. Apalagi kawanan ikan tuna juga sudah tiba sejak tadi, dengan sebuah mutiara yang mereka temukan.

Sejak saat itu para penghuni lautan mempunyai istilah baru, yaitu “otak udang” yang ditujukan bagi para udang yang cara berpikirnya seperti demikian. Terlalu banyak persiapan hingga menghabiskan waktu dan melupakan tugas utama.

Teori Ketidakpastian

Mungkin tiga tahun lalu, atau empat tahun. Entahlah, saya sendiri sudah tidak ingat. Yang jelas, lelaki itu datang ke rumah dan menceritakan penyakit kronis yang dideritanya dengan sangat lemah.

Ia adalah teman kecil saya, dari ceritanya tampak benar bahwa ia sudah pasrah kalau memang harus menghadap Allah dalam hitungan minggu atau bulan. Pengobatan medis sudah ditempuh namun tidak menunjukkan perbaikan.

Pengobatan alternatif sudah dilakoni pula, namun tetap saja penyakit itu semakin menggerogoti tubuhnya. Masa depannya sudah cukup pasti baginya, bahwa ia akan mengalah juga kepada penyakitnya kelak.

Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya? Ternyata, sampai hari ini saya masih sering berpapasan dengannya di jalan. Tubuhnya cukup sehat, dan masih mampu membawa motor sendiri. Begitulah masa depan, tidak ada yang pasti.

Apa yang akan terjadi pada kita masing-masing di masa depan benar-benar sesuatu yang tidak pasti. Menjadi sehat atau sakit, berubah kaya atau miskin, bahkan iman di dalam hati ini tak ada yang tahu bagaimana kelak.

Anehnya, banyak orang justru menganggap masa depannya sudah pasti, sehingga mereka cemas berlebihan. Tidakkah mengherankan jika kita mencemaskan apa yang tidak kita ketahui dengan pasti?

Dahulu ada seorang perempuan yang mengaku menjadi nabi hanya beberapa bulan setelah wafatnya Rasulullah. Ia memiliki ribuan pengikut, hingga cukup berani menantang kaum muslimin di Madinah. Namanya Sajjah At-Tamimiyah.

Namun sang perempuan itu menyusun strategi yang lebih matang, ia menikah dengan Musailamah Al-Kazzab. Maka jadilah seorang nabi palsu perempuan yang bersuamikan seorang nabi palsu lelaki. Bayangkan bagaimana kesesatan yang sangat besar itu.

Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan muslim untuk menghentikan kezaliman mereka, agar jangan sampai bertambah banyak umat muslim yang murtad. Peperangan sengit pun terjadi. Musailamah Al-Kazzab mati terbunuh.

Sang perempuan itu berhasil melarikan diri ke Basrah, kemudian ia bertaubat dan menjadi muslimah yang baik hingga wafatnya. Jenazahnya dishalati oleh gubernur Basrah yang memimpin saat itu.

Bagaimana mungkin masa depan seorang perempuan yang menjadi nabi palsu dan menyesatkan ribuan orang itu bisa berakhir dengan amat baik? Sekali lagi, karena masa depan tidak ada yang pasti.

Saudaraku, cobaan apapun yang sedang kita alami saat ini, sama sekali tidak menggambarkan masa depan bagaimana. Jangan berlebihan dalam memikirkan masa depan, seolah-olah kita sudah tahu pasti apa yang akan terjadi.

Sebagai seorang muslim, tugas kita adalah berprasangka baik dan terus menerus berdoa kepada Allah. Karena ketidakpastian masa depan kita itu berada dalam kekuasaan Allah. Maka serahkan sepenuhnya kepada-Nya.

Honk more wait more

Mumbai adalah salah satu kota di India yang terkenal dengan tingkat kebisingan jalannya. Para pengemudi kendaraan di sini senang sekali membunyikan klakson meski lampu lalu lintas masih menyala merah.

Polisi Mumbai berkomentar tentang fenomena ini, “Mereka berpikir kalau klakson dibunyikan akan mempercepat lampu segera hijau kembali!”

Sebenarnya semua orang tahu, membunyikan klakson tidak menyelesaikan masalah. Justru hanya menambah masalah baru, yaitu kebisingan. Namun orang-orang tetap saja melakukannya karena tidak sabar. Akibatnya, semakin bising hanya membuat semakin kacau suasana.

Kepolisian Mumbai lantas memasang alat yang mendeteksi kebisingan di sebuah lampu lalu lintas. Jika banyak klakson berbunyi, lampu itu akan menambah durasi untuk terus menyala merah. Kemudian sebuah papan informasi mengeluarkan peringatan, “Honk More Wait More.” Semakin berisik, semakin lama menunggu.

Alat detektor itu ampuh juga rupanya. Kini para pengemudi bisa menahan diri untuk membunyikan klakson, karena hanya itu satu-satunya cara agar lampu bisa menyala hijau. Mereka sekarang dengan tenang bisa menikmati menunggu lampu merah.

Pesan dari kisah di atas cukup jelas. Setiap masalah sebenarnya cukup kita hadapi saja, tanpa perlu banyak komentar dan bising. Terkadang masalah yang sebenarnya biasa-biasa saja itu menjadi besar justru karena kita yang terlalu banyak bicara dan berkeluh kesah.

Pada suatu malam listrik mati total di seluruh lingkungan kami. Saudara tentu tahu apa yang terjadi jika listrik mati di Jakarta yang panas? Tak ada kipas, tak ada AC, dan kami akan tidur dalam keadaan gerah dan pengap.

Semua anggota keluarga saling sahut menyahut, “Bagaimana kita bisa tidur malam ini? Bagaimana kalau listrik mati sampai pagi? Astaga, kita pasti tidur bermandikan keringat!”

Saya lantas menggelar karpet di ruang tamu sebagai satu-satunya ruang yang cukup lega di rumah, meletakkan beberapa bantal dan mulai memasang posisi tidur di sana. Lambat laun mereka kemudian mengikuti, dan jadilah kami satu keluarga tidur di ruang tamu!

Meski tanpa listrik, nyatanya kita semua tertidur dengan pulas! Benar saja, semakin banyak bicara dan keluh kesah akan semakin besar masalah. Honk more wait more.

Al-Quran telah memperingatkan sifat manusia yang seperti ini dalam Surat Al-Ma’arij ayat 20,

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

“Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.”

Jadi, saat sesuatu memang harus kita hadapi, ya sudah cukup jalani saja. Percayalah semua tidak seberat yang kita bayangkan saat sudah dikerjakan.

8 Ucapan Ajaib Untuk Membentuk Karakter Anak

Berikut ini 8 ucapan atau kata-kata ajaib yang penting diajarkan kepada anak-anak sejak kecil. Ucapan ini akan membentuk karakter positif anak.

*1. Salam*

Ajarkan dan biasakan ucapan “Assalamu ‘alaikum” kepada anak agar terbiasa dengan salam yang Islami. Tiap masuk rumah atau masuk kamar orangtua atau ketemu orang lain, ucapannya selalu salam. Ucapan ini membentuk *jiwa penuh kedamaian* pada diri anak.

*2. Dzikir*

Biasakan ucapan yang mengandung muatan dzikir kepada Allah dalam merespon segala sesuatu. Misalnya astaghfirullah, subhanallah, alhamdulillah, masyaallah, insyaallah, barakallah, dan lain sebagainya. Bukan ucapan: Astaga! Gila! Bego! Dzikir menciptakan karakter *taqwa* pada diri anak.

*3. Tolong*

Biasakan anak untuk mengucapkan kata ‘tolong’ setiap ia meminta bantuan kepada orang lain. Jika terbiasa dengan kata ini, akan tumbuh karakter *rendah hati dan tidak sombong.*

*4. Terimakasih*

Biasakan mengucapkan kata terimakasih untuk berbagai hal yang positif, sebagai apresiasi kepada orang lain yang telah memberikan pertolongan bagi dirinya. Anak yang tumbuh dengan *menghargai orang lain akan menumbuhkan kebesaran jiwa.*

*5. Maaf*

Ajarkan anak untuk mudah meminta maaf walaupun ia tidak melakukan kesalahan. Apalagi jika ia memang melakukan kesalahan. Anak yang terbiasa meminta maaf akan tumbuh sikap *empati dan kasih sayang.*

*6. Okay*/Iya / Baik
Ajarkan anak untuk mengucapkan kata “okay” atau “iya” atau “siap” sebagai respon dari nasihat atau perintah dari orangtua. Kadang saat ibu atau ayah meminta anak untuk melakukan sesuatu, ia hanya mengangguk atau bahkan diam saja. Ungkapan ini membentuk karakter *peduli dan menghargai.*

*7. Izin*/Permisi
Biasakan anak untuk meminta izin dalam berbagai kondisi. Misalnya minta izin untuk menggunakan benda yang bukan miliknya.
Hal ini membentuk karakter *tertib.*

*8. Bisa*

Ajarkan anak berpikir dan bersikap optimistik. *”Aku bisa”* adalah ungkapan optimistik.
Membuat anak tumbuh dengan *percaya diri*

Cara berfikir seekor kambing

Seorang penggembala kambing sedang duduk beristirahat sambil mengamati kambing-kambingnya yang sedang sibuk menikmati rerumputan di padang hijau yang luas.

Penggembala itu memegang sebuah rotan di sebelah tangannya yang tidak akan segan-segan ia gunakan untuk memecut kambing yang keluar dari kumpulannya. Bukan apa-apa, kambing yang memisahkan diri, ia nanti bisa tersesat dan membahayakan dirinya sendiri.

Para kambing pun menunjukkan sikap yang berbeda-beda berkaitan dengan hal ini. Ia yang berpikir lebih cerdas, tidak akan berani pergi jauh-jauh dari kerumunan. Karena ia sudah pernah merasakan sabetan rotan si penggembala, dan tak mungkin ia mau merasakan kedua kalinya.

Beberapa lagi suka melupakan kenyataan bahwa ia tak boleh menjauhi teman-temannya. Ketika ia melakukan hal tersebut, si penggembala akan melihatnya dan memecut satu kali kambing itu.

Cukup satu kali, karena setelah itu ia ingat akan kesalahannya dan kembali kepada barisan yang benar.

Namun ada pula jenis kambing ketiga, yang tidak juga mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia tetap saja tidak bisa diatur. Setiap kali melanggar, pecutan rotan akan melayang di tubuhnya.

Namun tetap saja ia melakukan kesalahan lagi dan lagi. Berkali-kali ditegur dengan rotan yang menyakitkan pun ia belum sadar juga. Barangkali kambing-kambing itu berpikir bahwa mereka adalah kambing, dan memang seperti itulah seharusnya sikap seekor kambing. Entahlah.

Dipikir-pikir ada benarnya juga kalau yang berbuat seperti itu adalah kambing. Justru yang menjadi pertanyaan, jika pelakunya adalah manusia. Mereka tahu hidupnya berkali-kali ditegur oleh Allah, namun belum sadar juga.

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”

(Surat Asy-Syura: 42)

Azab atau hukuman sedianya Allah berikan pada hamba-Nya sebagai teguran. Mukmin yang cerdas, tidak akan berani melanggar aturan Allah. Kalaupun pernah mengalami teguran tersebut karena lupa, maka cukup satu kali setelah itu ia ingat akan kesalahannya dan kembali kepada jalan yang benar.

Justru yang mengherankan adalah mereka yang tidak pernah bisa diatur meski sudah menerima teguran berulang-ulang. Padahal hanya kambing yang berpikir demikian, dan memang seperti itulah seharusnya sikap seekor kambing. Entahlah.

Memangnya selama ini dari mana rezekimu?

Malam itu, setelah pengajian berakhir, guru saya kedatangan seorang tamu lelaki yang hendak ramah tamah. Seperti biasa, saya hanya duduk saja mendengarkan.

Dalam suasana seperti ini sebenarnya saya cukup canggung, khawatir tamu tersebut ingin mengungkapkan hal yang agak pribadi lantas keberadaan saya membuatnya sungkan. Tapi apa boleh buat, saya selalu diperintahkan untuk diam di tempat, dan ikut berbincang enam mata di sana.

Saya tahu, mungkin di antara semua murid beliau, sayalah yang paling dangkal dalam pengalaman. Maka, mendengarkan cerita-cerita para tamu akan memperkaya pengalaman baru bagi saya.

Seperti malam itu, ada sebuah nasihat beliau yang sangat menggores di hati. Setelah lelaki tersebut berkisah panjang lebar tentang lingkungannya, keluarganya, hingga perihal rezeki, maka keluarlah nasihat guru.

“Kalau seseorang menyangka bahwa rezekinya berasal dari sumber penghasilannya, maka Allah akan menjadikan rezekinya benar-benar hanya dari penghasilan itu saja.”

Semua muridnya tahu, beliau tipe orang yang tidak banyak bicara. Tetapi begitu berkata, pasti bermakna sekali. Sungguh padat benar satu kalimat tersebut.

Bahwa banyak orang gelisah terhadap kenaikan harga, pengeluaran yang terus bertambah, serta meningkatnya biaya kesehatan dan lain-lain, sementara gaji dari kantornya benar-benar terbatas. Maka jadilah gaji yang diperoleh akhirnya tak bisa mencukupi, karena Allah sebagaimana prasangka hamba-Nya.

Pemikiran seperti ini, seolah-olah Allah tidak kuasa memberikan rezeki kepadanya dari jalan lain, kecuali hanya dari penghasilannya saja. Padahal Allah memberi rezeki dari segala penjuru,

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

(Surat At-Thalaq: 3)

Oleh karena itu kurang elok rasanya saat kita berkata, “Dari mana lagi saya bisa dapat rezeki kalau bukan dari pekerjaan saya ini.”

Atau kadang orang suka berbicara, “Toko ini satu-satunya sumber pendapatan saya.”

Padahal Allah selama ini memberi rezeki manusia dari berbagai sumber, baik yang disangkanya maupun yang tidak disangkanya. Perniagaan maupun pekerjaan, hanya salah satu dari saluran turunnya rezeki Allah tersebut.

Sebagaimana kisah seorang pemuda yang berjumpa dengan kakek berpenampilan seperti dari kampung pedalaman. Mungkin si pemuda merasa penasaran, sehingga bertanyalah ia,

“Kakek, dari mana sumber penghidupan engkau selama ini?”

“Nak, ketahuilah. Kalau Allah hanya memberi rezeki dari sumber yang kita ketahui, niscaya kita tidak bisa hidup.”

Kakek yang bijaksana itu telah membuka mata si pemuda, bahwa rezeki Allah teramat luas, tak mungkin terjangkau oleh akal pikiran kita yang sempit ini.

Tugas kita adalah mantapkan keyakinan, luaskan prasangka baik kepada Allah, bahwa sumber pendapatan kita bukanlah satu-satunya saluran rezeki-Nya.