Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Artikel

CROSSING THE CHASM

Ilmu ini Saya dapatkan dari mas Indrawan Nugroho. Lalu kemudian Saya mendalami lebih dalam di beberapa literatur yang Saya baca.

Crossing The Chasm adalah sebuah Buku yang ditulis oleh Geoffrey Moore, seorang ahli Organisasi dari Amerika yang membahas tentang bagaimana membangun strategi marketing yang siap menggilas kompetitor.

Moore sebenarnya terinspirasi dari “Technology Adoption Life Cycle” yang merupakan hasil riset Beal dan Bohlen pada 1957. Pada 1994, Richard J Hernnstein seorang Psikolog dan Charles Murray seorang Poltical Scientist menyebutnya dengan “Bell Curve”.

Adoption Life Cycle ini sebenernya sangat sederhana, ini tentang bagaimana sebuah produk diadopsi oleh pasar.

Geoffrey Moore menjelaskan dan membagi market menjadi 5 bagian besar, berdasar atas kemampuan adopsinya atas sebuah produk atau inovasi.

Jika kita sebagai pebisnis mendeliver sebuah produk yang baru, maka yang pertama merespon adalah Kaum Innovators. Setelah kaum innovators menyerap, kaum early adaptors langsung menyerap cepat. Kedua kaum ini adalah dua lapis besar segmen yang siap memgadopsi produk Anda di awal-awal.

Berita buruknya, kedua lapisan ini hanya berjumlah 16% dari seluruh market share, innovators 2,5% dan early adopters 13,5%. Jika kita hanya berharap dibeli oleh dua lapis kaum ini, maka kita tidak akan pernah bisa meraih seluruh market share.

Lalu dimanakah populasi besar market berada? Mereka ada di bagian kaum Early Majority dan Late Majority. Kedua lapisan ini memenuhi 68% market share. Jadi, jika Anda ingin masuk ke pasar yang sangat luas, Anda harus mampu menerobos Early Majority dan Late Majority.

Disinilah teori Crossing The Chasm dibutuhkan. Kita harus berfikir tentang bagaimana agar produk yang semula sudah diserap Innovators dan Early Adopters ini kemudian bisa MENYEBERANGI JURANG menuju lapis Majority.

Secara sederhana, kuncinya hanya 1 : bagaimana membuat produk Anda mampu diterima oleh Innovators dan Early Adopters, sehingga mereka akan menjadi topangan produk Anda menuju kaum Majority.

Mengapa? Karena kaum majority ini selalu bertanya kepada kaum Innovators dan Early Adopters, apakah produk Anda bagus atau tidak. Kalo bagus, product Anda bisa Crossing The Chasm. Kalo busuk, product Anda akan terjerembab di jurang dalam.

*

Untuk lebih memahami bagian demi bagian dari Adoption Life Cycle, ijinkan Saya untuk kemudian membahas lapisan ini bagian demi bagian.

1. Kaum Innovators
Kaum ini memiliki tiga ciri besar : mereka lebih sejahtera, lebih terdidik dan mereka suka akan resiko.

Karena lebih sejahtera, mereka memiliki daya beli yang tinggi. Karena sejahtera ini pula lah, mereka gak terlalu banyak pertimbangan untuk memutuskan membeli. Kalo ada yang baru ya beli, kan horang kayah.

Hal lain yang membuat kaum innovators ini sangat cepat membeli produk baru adalah… karena mereka akrab dengan resiko. Kalo ada produk baru, mereka langsung beli, mau bagus atau nggak, mereka yang ingin mencoba untuk pertama kali.

Tapi sayangnya, kaum ini hanya 2,5%. Ini berita baik juga untuk Anda, ada 2,5% populasi yang siap gelap mata membeli produk Anda.

2. Kaum Early Adopters
Kaum ini relatif anak-anak muda. Mereka pemimpin komunitas, namun kesejahteraannya dibawah kaum innovators.

Anak-anak muda ini sangat senang untuk mengadopsi hal baru. Selain itu, mereka relatif menjadi acuan bagi komunitas mereka. Ini yang membuat mereka selalu bergegas menyambut hal baru.

3. Kaum Early Majority
Mereka adalah sosok konservatif namun terbuka dengan ide-ide baru. Kaum ini juga aktif bersosialisasi di komunitas yang ada.

Karakter sifat dari kaum inilah membuat early majority relatif bersegera menyambut dorongan dari kaum early adopters. Tapi intinya begini : kaum di early majority harus memberi kesaksian yang positif, baru kemudian kaum Early Majority mau bergerak menyerap.

4. Kaum Late Majority.
Kaum ini adalah kaum yang relatif tua, tidak teredukasi dan sedikit sekali berinteraksi dengan komunitas.

Jika kaum early majority sudah menyerap sebuah produk dan happy, barulah kaum late majority mau menyerap produk tersebut.

Early majority dan late majority menempati masing-masing 34% market share. Berarti total market share pada dua lapisan ini berjumlah 68%.

5. Terakhir adalah Kaum Laggards
Ini kaum tua, sangat-sangat konservatif, relatif kurang sejahtera dan tidak terdidik.

Populasi laggards ini 16%. Di populasi ini, walau hari ini sudah nenggunakan WA, mereka masih memakai SMS.

*

Menuju 10 juta penonton, adoption life cycle ini menuntun Saya untuk berfikir keras. Bagaimana film ini bisa ditonton lebih banyak innovators dan early adopters, dan bagaimana film Bunda bisa crossing ke kaum majority.

Untuk 10 juta penonton, PH Inspira harus berfikir tentang bagaimana agar film ini bisa ditonton 1 juta penonton pada 3 hari pertama.

Lahirlah Program Pre Sale tiket dengan melibatkan banyak reseller. Semua program inspira ini, lahir dari pendalaman riset Moore dan Rogers. Memadukan teori market yang dibawakan oleh ahli marketing, ahli psikologi, hingga sosok ahli politik.

Semoga terjawab semua teka teki program kami.

Rendy Saputra

Rencana Allah SWT Pasti Yang Terbaik

Saya mendapat kiriman tulisan inspiratif di bawah ini dari sahabat saya. Entah siapa yang menulisnya, saya hanya mengedit beberapa kata. Menyentuh dan menyadarkan. Layak untuk dibaca, selamat menikmati.

Ada seorang tukang tahu, detiap hari ia menjual dagangannya ke pasar. Untuk sampai ke pasar, ia harus naik kendaraan umum (angkot) langganannya.

Dan untuk sampai ke jalan raya, ia harus melewati pematang sawah.

Setiap pagi ia selalu berdoa kepada Allah swt agar dagangannya laris.

Begitulah setiap hari, sebelum berangkat, ia selalu berdoa terlebih dahulu dan pulang sore hari. Dagangannya selalu laris manis.

Suatu hari, ketika ia melewati sawah menuju jalan raya untuk naik angkot langganannya, entah kenapa tiba-tiba ia terpeleset tercebur ke sawah.
Semua dagangannya jatuh ke sawah, rusak dan hancur berantakan! Jangankan untung, modal pun buntung!
Mengeluh ia kepada Allah, bahkan “menyalahkan” Allah, mengapa ia diberi cobaan seperti ini? Padahal ia selalu berdoa setiap pagi.

Akhirnya ia pun pulang tidak jadi berdagang.

Tapi dua jam kemudian ia mendengar kabar, bahwa angkot langganannya yg setiap hari ia naiki, pagi itu jatuh ke dalam jurang. Semua penumpangnya tewas! Hanya ia satu2nya calon penumpang yg selamat, “gara- gara” tahu nya jatuh ke sawah, sehingga ia tidak jadi berdagang dan membawa pulang tahu-tahunya yg sdh rusak tadi.

Sore harinya, ada seorang peternak bebek mencari dia dan hendak membeli tahu untuk makanan bebek, namun anehnya peternak bebek itu mencari tahu yg rusak/hancur karena hanya untuk campuran makann bebek saja. Spontan bapak itu menangis bahagia karena tahunya yg rusak dibeli semua oleh peternak bebek itu..

Ternyata, doa tidak harus dikabulkan sesuai permintaan, tapi terkadang diganti oleh Allah swt dengan sesuatu yg jauh lebih baik daripada yg diminta.

Allah Maha Tahu kebutuhan kita, dibandingkan diri kita sendiri.

Karena itu, janganlah jemu berdoa, juga jangan menggerutu, apalagi mengutuk!
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu
padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang manusia tidak mengetahui” (Q.S Al Baqarah: 216).

Jika Allah menjawab doamu, Ia sedang menambahkan imanmu. Jika Ia menundanya, Ia sedang menambahkan kesabaranmu. Jika Ia tidak menjawab doamu, Ia sedang mempersiapkan yang terbaik untukmu.

Demikian tulisan yang dikirim oleh sahabat saya, semoga penulis aslinya mendapat kiriman kebaikan dari menyebarnya tulisan ini.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini

Siapa bilang jadi pengusaha itu mudah

Semalam saya manyimak curhatan seorang founders yang apps-nya sudah di gunakan oleh puluhan juta orang. Dia termasuk dalam 150 orang terkaya di negeri ini dan usianya sebaya dengan saya.

Boro-boro dapet semangat, justru dia malah ngingetin saya akan segala kepahitan yang pernah saya alami. Dan tentu saja dia alami juga. Akhirnya ini menjadi wake up call bagi saya bahwa jangan melulu menulis tentang hal-hal manis belaka.

Anda harus akan mengalami kegagalan!

Anda akan merasakan frustasi ketika yang anda rencanakan tidak berjalan!

Anda harus kecewa dengan penolakan padahal niatnya hendak menolong!

Anda akan merasakan pengkhianatan bahkan dari orang yang terdekat dengan anda!

Anda akan ditinggalkan orang yang selama ini didekat anda. Bahkan karyawan pun mendemo anda!

Anda sering dalam kondisi hampir putus asa dan menyerah seakan menjadi pilihan yang indah!

Anda ditertawakan dan diremehkan karena belum juga berhasil!

Anda akan dibanding-bandingkan dengan pencapaian orang lain!

Anda harus rela kurang tidur dan otak selalu berpikir dan berpikir!

Anda akan sering mendengar teriakan, tangisan, bentakan serta berbagai emosi orang terdekat yang mulai kehilangan kesabaran!

Anda akan bingung setelah menumpuk banyak produk tapi tak kunjung laku!

Anda lebih sering kekurangan uang bahkan makan sehari sekali saja!

Anda akan bangkrut bahkan kehilangan seluruh harta anda!

Anda harus siap pasang badan dan bertanggung jawab atas kerugian yang belum tentu kesalahan anda!

Siap mengalami itu semua??

Coba pikirkan kembali….anda pikir semua orang siap mengalami hal itu?

Itulah sebabnya nggak semua orang bisa sukses besar dan Kaya Raya.

Ingat, kegagalan bukan lawan dari kesuksesan. Tapi kegagalan adalah bagian dari sukses itu sendiri!

Terima Kasih mas Nadiem Makarim atas nasehatnya!

Jangan lupa, ikut seminar BONGKAR MINDSET DARI MELARAT JADI KONGLOMERAT tanggal 28 September ya!

Ari candra kurniawan