Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Bitcoin Bikin Kaya Dalam Semalam Tapi Ikut Cemari Lingkungan

Foto: Bitcoin (REUTERS/Benoit Tessier)Bitcoin (virtual currency) coins are seen in an illustration picture taken at La Maison du Bitcoin in Paris, France, May 27, 2015. REUTERS/Benoit Tessier

Jakarta, Indonesia – Fenomena kenaikan harga Bitcoin yang liar bukan hanya jadi satu-satunya masalahnya. Namun penambangan Bitcoin yang tidak ramah lingkungan dengan aktivitas itu sangat boros listrik.

 

“(Jumlah listrik untuk penambangan) secara historis lebih banyak dari (yang digunakan) seluruh negara, seperti Irlandia,” kata profesor ekonomi Universitas New Mexico, Benjamin Jones, dikutip The Guardian, Senin (1/3/2021).
Penambangan Bitcoin sendiri merupakan aktivitas dengan cara memecahkan serangkaian algoritma yang kompleks dan proses yang sangat insentif energi. Saat dibuat 2009 lalu, penambangan ini bisa dilakukan pada komputer biasa.

 

Pada akhirnya, penambangan berkembang dengan adanya Bitcoin bisa ditambang dengan jumlah terbatas yakni 21 juta. Lebih banyak koin yang ditambang semakin sulit algoritma yang harus dipecahkan.

Saat ini sudah ada 18,5 juta koin yang berhasil ditambang dan itu membuat komputer biasa tidak bisa lagi menjadi alat penambangan. Dengan begitu aktivitas penambangan membuatkan komputer spesial yang dapat menangani kekuatan proses intens untuk mendapatkan Bitcoin.

Sudah pasti, komputer spesial ini akan membutuhkan banyak listrik untuk tetap berjalan. Benjamin mengatakan jika listrik yang digunakan untuk penambangan Bitcoin mencapai puluhan terawatt listrik per tahunnya.

Center for Alternative Finances di Cambridge memperkirakan konsumsi listrik untuk Bitcoin adalah di atas 115 terawatt-jam atau Twh. Sedangkan laporan Digicomist mengungkapkan jika penggunaanya mencapai 80 Twh.

Digicomist juga membandingkan transaksi bitcoin yang jauh lebih boros dibandingkan aktivitas online lainnya. Menurut laporan tersebut, jejak karbon yang ada pada satu aktivitas saja membuang karbon yang sama dengan 680 ribu transaksi Visa dan menonton Youtube selama 51.210 jam.

Area pabrik kertas di Quebec, Kanada 'disulap' menjadi pusat penambangan mata uang kripto (cryptocurrency) di tengah tren Bitcoin. (dok. REUTERS/Christinne Muschi)

Foto: REUTERS/Christinne Muschi

Sayangnya aktivitas ini masih mengandalkan listrik yang didapatkan dari penambangan batu bara. Disebutkan oleh sejumlah pencinta lingkungan mengatakan para penambang akan mencari tempat dengan listrik murah, artinya adalah tempat dengan pembangkit listrik batu bara.

Laporan Cambridge menyebutkan China sebagai negara penambangan Bitcoin terbanyak dan walau sudah bergerak menggunakan energi terbarukan tapi dua pertiga listriknya masih dari batu bara.

Hal ini diperparah belum dapat diketahui apakah para penambang menggunakan listrik dengan energi terbarukan atau bahan bakar fosil saat menambagkan. Sampai saat ini tidak ada badan pemerintah atau organisasi resmi yang mencari tahu itu.

Penambangan juga sulit dilacak, karena para penambang bisa berpindah kemanapun untuk menambang dengan energi paling murah yang dapat digunakan.

“Tempat mengambang (Bitcoin) bisa dipindahkan dan dalam beberapa kasus Anda tidak tahun dimana mereka,” kata Profesor Geografi dan Lingkungan di Universitas Hawaii, Camilo Mora.

Link : https://www.cnbcindonesia.com/tech/20210301104632-37-226835/bitcoin-bikin-kaya-dalam-semalam-tapi-ikut-cemari-lingkungan/2

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published.