Skip to content Skip to left sidebar Skip to footer

Berita

Adakah orang di rumah Anda yang tidak terpengaruhi oleh internet?

Adakah orang di rumah Anda yang tidak terpengaruhi oleh internet? Kemungkinan Anda akan menjawab, “Hampir-hampir tidak ada.” Saat ini, internet sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari masyarakat perkotaan (urban society).

Bukan saja dalam pembelian barang, melainkan juga dalam komparasi harga. Dan hal ini saya tekankan pada mitra-mitra saya dalam setiap training. Ya, saya rutin memberikan training kepada mereka, bukan saja soal motivasi tapi juga soal teknis.

Walaupun seorang konsumen tengah berada dan belanja di swalayan, namun tetap saja dia meng-kroscek harga barang sejenis di internet. Diam-diam, dia googling. Cek harga di marketplace. Kalau harga barang di swalayan itu dirasa wajar, barulah dia beli. Kalau dianggap tidak wajar, dia hold dulu.

Ketika konsumen semakin lama menghabiskan waktunya bersama handphone dan internet, terus kita masih saja fokus memasang spanduk dan menyebar flyer, menurut saya itu BUKAN keputusan yang cerdas.

Jujur saja, selama ini saya mengajarkan mitra-mitra saya untuk benar-benar mahir ber-marketing-ria di socmed dan WA. Boleh-boleh saja kita cetak spanduk dan flyer, namun fokus utama kita adalah bagaimana menawarkan di Instagram dan Facebook, dua tongkrongan andalan netizen saat ini.

Harus diakui, Facebook adalah socmed terbesar saat ini, baik di Indonesia maupun di dunia. Adapun saya pribadi lebih menyukai Instagram ketimbang Facebook, apalagi fakta menunjukkan pengguna IG lebih berdaya beli ketimbang pengguna FB. Ini bukan soal selera, tapi soal realita.

Beberapa hari yang lalu, di forum ini saya sudah berbagi tips bisnis untuk pemula. Seorang pemula disarankan untuk menjual dan menjualkan terlebih dahulu. Jangan malah menghabiskan uang dan energi untuk mengurusi produksi, ruko (kantor), dan SDM. Itu tips bisnis dari saya untuk pemula.

Kenapa? Mengurusi produksi, ruko, dan SDM, ini pekerjaan yang kompleks sekali. Selain itu, juga menghabiskan biaya. Boleh dibilang, relatif berat bagi seorang pemula. Nah, kalau menawarkan lewat socmed dan WA, ini akan jauh lebih ringan.

Bayangkan, akhir-akhir ini, sekitar 90 persen orang Indonesia memiliki ponsel. Bahkan 1 orang bisa punya 2 ponsel. Dan hampir semua ponsel tersebut berbentuk smartphone. Ini menurut analis-analis. Itu artinya, masyarakat (baca: prospek) semakin familier dengan Instagram dan Facebook, juga WA.

Perlu diketahui, Indonesia juga merupakan 1 dari 12 negara di dunia yang penggunaan smartphone-nya lebih tinggi daripada penggunaan komputer. Melalui smartphone, masyarakat memanfaatkan fasilitas WA dan Telegram, di samping fasilitas socmed seperti Instagram dan Facebook.

Saya tahu Anda aktif di akun IG dan FB Anda. Tapi sepengalaman saya, untuk tujuan bisnis, aktif saja tidak cukup. Anda harus belajar (baiknya dibimbing) soal marketing di IG, FB, dan WA. Sekali lagi, aktif saja sama sekali tidak cukup.

Pada akhirnya percayalah, promosi-promosi tradisional (spanduk, flyer, ruko, bazaar, pameran, dan sejenisnya) pelan-pelan mulai ditinggalkan, terutama di kategori-kategori tertentu. Ada baiknya kita mulai melek dengan promosi-promosi berbasis internet. Saya harap Anda siap. Benar-benar siap.

Bisnis yang praktis itu seperti apa?

Kemarin saya ngumpul bareng partner-partner. Ada Kak Diaz dari Jakarta, Kak Marida dari Bogor, Mbak Malina dari Yogya, dan Teh Teni dari Sukabumi. Ramai dan seru, alhamdulillah. Kami saling belajar satu sama lain. Kalau boleh, di sini saya akan share sedikit percakapan kami semalam. Tentang bisnis yang praktis. Ternyata ada ciri-cirinya.

Namanya bisnis tidak harus produksi sendiri. No production, istilahnya. Saran saya, “Fokus saja pada penjualan. Karena, untuk menjalankan proses produksi yang efisien dan menguntungkan perlu modal dan pengalaman yang lumayan. Kalau pemula? Biasanya belum sanggup.”

Setelah no production, terus apa lagi? No operational. Jangan sampai waktu kita tersita di operasional. Sekali lagi, fokus saja pada penjualan. Ini akan berdampak langsung pada penghasilan (income). Dan jangan pula setiap bulan kita harus membayar gaji karyawan, sewa tempat, dan listrik-air. Iya kalau laris. Kalau nggak laris, gimana cara membayarnya?

Kemudian, saya menyarankan barang yang delivery-able. Ringan di ongkir, tidak terkendala di berat dan size. Jangan pula yang mudah pecah. Sebaiknya pilih produk yang kecil ukurannya tapi nilai jualnya tinggi. Syukur-syukur mudah disimpan, nggak nyita space.

Gimana dengan kualitas? High quality, saran saya. Pastikan kualitasnya nilai 8 atau 9, sehingga manfaat dan khasiatnya berbicara dengan sendiri. Konsumen pun, tanpa diminta, akan memberikan testimoni. Bisa viral, bisa nyebar. Ya, memang lebih baik kalau konsumen yang berbicara ketimbang penjual.

High repetition adalah saran saya yang berikutnya. Cari produk yang harus dibeli ulang oleh konsumen dalam mingguan atau bulanan. Ini akan membantu kita dalam hal cahsflow. Ingat, mencari-cari konsumen baru mengharuskan cost 6 kali lebih tinggi. Adalah menyenangkan kalau konsumen yang ada repeat order dengan sendirinya, mingguan atau bulanan.

Terakhir, high Margin. Minimal marginnya 25%. Itu minimal. Bukan karena kita kemaruk. Bukan. Justru kita ingin bagi-bagi keuntungan kepada reseller, dropship, dll. Kalau margin hanya 10%, gimana bagi-baginya? Rada repot.

Inilah ciri-ciri bisnis yang praktis. Dan insya Allah sangat bermanfaat buat pemula.

By Ippho Santosa